Facebook, Effective Weapon of Public Relations!

4 Feb 2009

internet sehat facebook

(benny & mice demam facebook @ kompas, 1/2/2009)

Kartun di atas, cukup menggambarkan tren penggunaan facebook yang saat ini sedang naik daun. Berteman rasanya belum cukup, kalau belum “berteman” di dunia maya, dalam hal ini facebook. Saya jadi ingat ketika saya sharing dalam acara “Indosat Public Relations Workshop 2009″ (foto) di Gedung Indosat, Rabu (14/1/2008). Saya diminta memberikan materi tentang peran dan tren Internet (online / digital) dalam tugas ke-PR-an.

Dalam kesempatan itu, saya paparkan dan jelaskan 5 senjata utama di Internet yang harus dikuasai oleh para pelaku Public Relations (PR). Senjata yang pertama yakni facebook! (4 senjata lainnya, akan saya share dipostingan lain yaa…)

personal komunikasi

dengan facebook, PR sebenarnya bisa menjalin komunikasi yang baik terhadap target komunikannya (individu, konsumen, publik, komunitas, dll). komunikasi di facebook sebenarnya lebih mengedepankan bahasa yang informal, personal dan emosional (dekat dengan hati), ketimbang bahasa yang formal, fungsional (memposisikan diri sebagai PR vs target) dan sangat struktural (komunikasi verbal yang terlalu ikut pakem, menunggu approval atasan, dll).

saling membaca (dan mengomentari) fitur status serta wall sesama teman dan memberikan tagging foto serta mengomentarinya, adalah sebuah bentuk komunikasi informal dengan tingkat kedekatan emosional yang tinggi. ketika PR bisa menjadi “friend” dari komunikannya, maka PR akan dapat mengetahui siapa-apa-mengapa komunikannya. sehingga jurus2 dan konten2 komunikasi yang lebih targeted dan segmented bisa digunakan, ketimbang model one-fit-for-all.

PR bisa membuat semacam matriks atau catatan khusus mengenai perilaku target komunikannya. apa kesukaannya (atau yang tidak disukainya), siapa teman2nya, bagaimana dia menghabiskan waktu luangnya, dll dengan melakukan obsertasi berkala pada postingan status, wall, tagging photo, dll.

-

korporat komunikasi

Di sisi sebaliknya, PR juga harus “menerjunkan” dirinya (dan entitas bisnis yang diwakilinya) ke dalam facebook. Dengan mengetahui sisi humanisme dibalik sebuah perusahaan/korporat (produk atau layanan) yang digunakan, maka konsumen tersebut akan bisa mendapatkan kedekatan emosional dengan perusahaan tersebut. setidaknya, dia akan memiliki teman (di facebook) berupa “orang dalam” perusahaan.

Dengan memiliki teman orang dalam tersebut, segala saran, kritik, keluhan hingga kecaman akan terfilter dan tak segera terdistribusi ke khalayak luas tanpa bisa dikendalikan lagi oleh PR (via blog misalnya). Untuk itulah maka PR juga harus membuka, menginformasikan dan menjalankan jalur komunikasi kepada dirinya 24 jam melalui facebook, kepada siapapun pemangku kepentingan (stakeholder) institusi yang diwakilinya.

Tetapi berhati-hatilah. Bagi PR yang menggunakan facebook, jangan sembarangan memasang status, posting di wall ataupun melakukan upload/tagging photo. Meskipun facebook hanyalah mencerminkan perilaku individu (perseorangan), tetapi jika perilaku Anda (sebagai individu) terkesan “aneh-aneh” atau “macam-macam”, maka dengan mudah orang lain akan mengasosiasikan Anda dengan profesi Anda sebagai PR dan bukan tidak mungkin citra dari institusi yang Anda wakili juga akan dikait-kaitkan.

-

Faksimili? Facebook aja deh!

Jadi nyata bahwa facebook sudah menjadi salah satu senjata andalan PR dalam menjalankan aktifitasnya. Kini saya semakin sering mendapatkan “message” dari facebook message (di blackberry) yang hampir sama intensitasnya dengan mendapatkan message dari SMS ! Bahkan beberapa kolega saya di Ristek dan Kominfo, kalau mengirimkan update informasi atau undangan diskusi, sudah tak lagi via telepon, sms atau e-mail. Facebok message rules!

Sejumlah acara baik yang sifatnya formal ataupun sekedar ngopi2 bareng juga menjadi mudah terorganisir melalui fitur “event” di facebook. Walhasil, undangan meeting formal + rsvp-nya kerap saya terima melalui facebook.

Faksimili sudah kuno! Mungkin ini terkesan berlebihan, tetapi saya saat ini sudah sangat-sangat jarang menerima undangan atau informasi melalui faksimili. Faksimili, selain hasilnya tidak awet (karena mudah terselip, tulisan mudah buram jika pakai thermal faks, dll), mengonsumsi kertas yang lumayan (ingat global warming!), tinta/ribbon ndak murah (kalau pake faks bertinta/ribbon), juga tidak dapat segera tersampaikan bagi saya yang aktifitasnya cukup mobile. Karena informasi faks datang ke kantor, yang berarti saya harus ada di kantor atau setidaknya ada orang di kantor yang menyampaikan informasi melalui faks ke saya. Sangat tidak efektif dan efisien di masa sekarang.

Tetapi bukan berarti fungsi faksimili bisa dihilangkan begitu saja oleh kehadiran teknologi, khususnya facebook ini. Karena bagi sebagian institusi yang konservatif, undangan atau informasi yang masih HARUS dalam bentuk hardcopy, bisa diwakili lebih cepat dengan faksimili (ketimbang pakai kurir atau bahkan pos, iyalah pastinya….). Sejumlah siaran pers atau rilis, juga masih banyak yang dideliver melalui faksimili (yang ujung2nya hanya menjadi tumpukan sampah di sudut meja redaktur).

Jadi saya kadang agak geli, ketika ada entitas swasta ataupun pemerintah yang ingin mengirimkan undangan atau informasi, ketika saya berikan alamat e-mail atau blog saya, kemudian dijawab, “maaf, ada nomor faks-nya saja tidak pak?” Hareee geeneee???

Saya tidak menentang faksimili, toh itu teknologi lawas yang tetap wajib ada di kantor2. Tetapi meminimalisir penggunaannya, bukanlah upaya yang mengada2 khan? :)

-

Saya kini tengah mengoptimalkan fitur “group” di facebook, untuk tujuan pengembangan komunitas. Yang pertama adalah group komunitas “Internet Sehat @ facebook” dan komunitas “Blogger Indonesia @ facebook“. Mengelola group di facebook bukanlah hal bisa dianggap sepele. Karena mereka yang terdaftar di group yang kita buat bukanlah sekedar sebuah username + e-mail, tetapi selalu ada sosok individu dan sisi emosional yang melekat.

Jadi, ketika facebook adalah pergaulan dunia online senyata (atau representasi) di dunia offline, maka lakukan eksperimen dan eksplorasi secara bijak!

-dbu-


TAGS


-

Author

Follow Me