Citizen Journalism vs Mainstream Media (Studi Kasus: Peliputan Peristiwa Terorisme di Mumbai - India)

Teroris di MumbaiBagaimana peran sesungguhnya pewarta warga (citizen journalist) ketika sesuatu yang memiliki news value tinggi terjadi disekitarnya? Bagaimana pembagian peran antara media jurnalis warga (blog atau microblogging) dengan media arus-utama (mainstream media)? Seperti apakah konvergensi ICT dikaitkan degan tipikal pewarta warga dewasa ini ?

Serangan teroris di kota Mumbai – India pada akhir November 2008 lalu, bisa menjadi salah satu contoh yang sempurna untuk menjawab pertanyaan di atas. Peristiwa serangan teroris di kota Mumbai yang menewaskan 172 orang  tersebut memang menyedot perhatian khalayak luas.

Data grafis yang disajikan oleh GoogleTrends (www.google.com/trends) berikut ini bisa menjadi salah satu gambarannya:

Mumbai-Global

(tren pencarian di google.com menggunakan kata kunci “mumbai”)

Tampak pada gambar di atas, pencarian di Google yang menggunakan kata kunci “mumbai” mengalami peningkatan yang signifikan pada tanggal 26 November 2008 dan mencapai puncaknya pada tanggal 27 November 2008. Kedua tanggal tersebut adalah masa-masa awal teroris melakukan serangkaian aksinya di Mumbai.

-

INFORMASI

Pewarta warga dengan memanfaatkan situs atau layanan jejaring sosial online, mempelopori penyampaian informasi tentang peristiwa di Mumbai. Perannya, menurut Techcrunch, bahkan mendominasi keberadaan media arus-utama saat itu. Blogger kawakan Mathe Wingram, yang juga redaktur media arus-utama Kanada, Globe and Mail,  lebih tegas mengatakan bahwa Twitter adalah source of journalism. Meskipun demikian, blogger Tom di TomTechsBlog dengan memaparkan sejumlah fakta, mengajak khalayak untuk tidak serta-merta mempercayai kesahihan dan keakuratan seluruh informasi yang digelontorkan oleh pewarta warga.

Tulisan ini tidak akan melibatkan diri pada pro-kontra di atas. Tulisan ini lebih bertujuan untuk mengajak Anda menggali, mengolah dan mengkritisi sejumlah data/informasi yang tersedia di Internet, terkait antara media pewarta warga vs media arus-utama pada kasus terorisme di Mumbai.

Jika kita melakukan pencarian informasi di Internet tentang insiden di kota Mumbai (keyword “mumbai attack”, dilakukan pada Q4 Desember 2008), maka akan didapatkan temuan sebagai berikut:

  • 14.300.000-an total halaman situs yang ditemukan oleh mesin pencari Google.com
  • 166.500-an blog yang terdata di mesin pencari GoogleBlog (blogsearch.google.com)
  • 84.900-an artikel di situs berita arus-utama yang tercatat oleh mesin pencari GoogleNews  news.google.com)
  • 5.600-an postingan di sejumlah blog yang terdaftar dalam  layanan blog Wordpress.com
  • 2.400-an postingan video di layanan penyimpanan dan berbagi video,  YouTube.com
  • 1.700-an postingan foto di layanan penyimpanan dan berbagi foto, Flickr.com

Yang menarik adalah ketika hasil pencarian memaparkan bahwa hasil pencarian konten tentang “mumbai attack” di blog menghasilkan jumlah dua kali lipat lebih banyak ketimbang di di situs berita!  Dari sini dapat ditarik postulat pertama bahwa informasi yang diposting oleh para blogger (diasumsikan sebagai pewarta warga), jauh lebih banyak ketimbang informasi yang disajikan oleh para jurnalis media arus-utama (mainstream) secara online.

Hal di atas belum termasuk serangkaian postingan berkelanjutan di layanan micro-blogging Twitter.com. Seperti ditulis oleh CNN.com, pewarta warga melalui situs micro-blogging Twitter.com menjadi garda terdepan dalam hal penyampaian informasi awal tentang kejadian serangan teroris di Mumbai. Hanya beberapa menit saat serangan teroris di mulai, setidaknya setiap 5 detik terkirim 80 pesan tentang kejadian di Mumbai ke Twitter via SMS, langsung dari tempat kejadian dan/atau dilaporkan lansung oleh saksi mata.

-

RUJUKAN

Saksi mata, dalam konteks perkembangan teknologi Internet terkini, tak lagi diposisikan sebagai nara sumber berita bagi media arus-utama. Saksi mata kini dapat memposisikan dirinya sejajar sebagai media arus-utama dalam konteks penyampaian informasi. Saksi mata juga kini dapat berperan sebagai jurnalis warga, yang menulis, mengabadikan gambar (foto dan/atau video) suatu kejadian dan menyampaikan (baca: menyiarkan) kepada khalayak luas.

Jika memang sumber pertama suatu informasi dapat datang dari pewarta warga, apakah dengan demikian blog (diwakili oleh Wordpress.com) dan microblogging (diwakili oleh Twitter.com) menjadi rujukan utama khalayak luas? Berikut ini adalah perbandingan pageviews antara situs media pewarta-warga dengan situs media arus-utama (diwakili oleh CNN.com) saat peristiwa terorisme di Mumbai tersebut terjadi , menggunakan data dari situs Alexa.com :

Mumbai-Alexa

(perbandingan pageviews antara twitter.comwordpress.com dan cnn.com versi Alexa.com)

Dari data di atas, dapat dijabarkan sebagai berikut:

  1. Pada keadaan normal, situs layanan blog wordpress.com memiliki pageviews yang lebih tinggi ketimbang CNN.com
  2. Pada saat kejadian di Mumbai, pageviews Wordpress.com tidak mengalami lonjakan yang signifikan
  3. Pada saat kejadian di Mumbai, situs CNN mengalami lonjakan yang cukup tinggi, hampir 2-3 kali dari kondisi normalnya, hingga jauh mengalahkan pageviews Wordpress.
  4. Situs Twitter, yang notabene adalah tempat kali pertama masuknya laporan adanya peristiwa Mumbai, yang kemudian disusul silih berganti dengan postingan laporan berikutnya dari pewarta warga, tidak mengalami lonjakan yang signifikan.

Jika kita coba tarik postulat kedua dari analisis di atas, maka dapatlah dikatakan bahwa meskipun situs pewarta warga micro-blogging  twitter.com) adalah yang pertama kali menayangkan informasi kejadian di Mumbai dan situs blogging  wordpress.com) memiliki muatan informasi “mumbai attack” dua kali lebih banyak dari situs media massa arus-utama, ternyata pengguna Internet secara global lebih menjadikan media massa arus-utama  CNN.com) sebagai rujukan untuk sumber informasi.

-

KONVERGENSI

Berdasarkan sejumlah paparan di atas, maka informasi tentang insiden terorisme di kota Mumbai adalah sebuah bentuk manifestasi konvergensi teknologi informasi dan komunikasi (termasuk Internet) dan media massa . Kejadian di suatu kawasan, dengan adanya konvergensi tersebut, akan dapat diketahui perkembangannya tiap waktu darimanapun penjuru kawasan dan oleh siapapun yang juga terkoneksi dengan Internet.

Media arus-utama tak lagi memegang kendali mutlak atas eksklusifitas sebuah informasi breaking news. Informasi breaking-news, di tangan para pewarta-warga, harus secepat-cepatnya “ditangkap” dan diredistribusikan kembali ke khalayak umum, tanpa harus melalui proses keredaksian kovensional (yang cenderung panjang dan birokratis). Meskipun tidak dapat dipungkiri pula bahwa proses keredaksian-lah yang diyakini banyak pihak akan lebih mampu menyaring mana informasi berfakta akurat dengan yang tidak.

Jeff Jarvis, Profesor Jurnalisme dari Universitas New York, tentang peran pewarta warga vs media arus-utama saat tragedi di Mumbai secara spesifik menulis dalam kolomnya di The Guardian, “these are all journalistic functions - reporting, gathering, organising, verifying - that anyone can now take on. Traditional news organisations will still perform these tasks, but in new ways”.

Terkait dengan tren keberadaan pewarta warga, Dan Gillmour menulis dalam bukunya “We The Media: Grassroots Journalism By The People, For The People“, bahwa pewarta warga akan menjadi bagian yang penting dan sejajar dengan media arus-utama dalam hal penyediaan informasi kepada khalayak luas. Gillmour memaparkan bahwa para pewarta warga bahu membahu dengan media arus-utama mendistribusikan informasi dalam berbagai bentuk, baik teks, foto maupun video.

Konvergensi teknologi informasi dan komunikasi (ICT) terkini, seperti Internet nirkabel, blog, gadget (ponsel) dan sebagainya, diklaim oleh Gillmour sebagai faktor pemungkin marak berkembangnya pewarta warga dewasa ini. Layanan blog, sebagai sebuah teknologi, memungkinkan seorang saksi mata berita bisa sekaligus menjadi penulisnya serta konsumen berita sekaligus bisa menjadi produsennya.

-

TIPIKAL

Berikut ini adalah tipikal pewarta warga yang dominan, menurut saya, mengacu pada partisipasinya dalam melaporkan tragedi di Mumbai:

  • Self-Organized. Ketika melakukan kegiatan sebagai pewarta warga dalam peristiwa terorisme di Mumbai, sejumlah blogger secara partisipatif mengkoordinasikan dirinya sendiri dalam kelompok-kelompok yang fokus pada informasi tentang kejadian di Mumbai tersebut. Di Twitter, segera dibentuk channel #mumbai bagi tempat postingan tentang kejadian terorisme tersebut. Sekelompok blogger yang berbasis di Mumbai, kemudian segera memanfaatkan situs Metroblog mereka yang beralamat di http://mumbai.metblogs.com sebagai layanan news wire. Hal tersebut bisa menggambarkan bahwa pewarta-warga, dalam keadaan yang istimewa atau di luar kelaziman, dapat secara cepat mengorganisir dirinya sendiri, tanpa proses birokrasi dan struktural yang kaku.
  • Convergence. Pewarta warga cukup bermodalkan piranti genggam (gadget) memadai, yang dilengkapi dengan fitur untuk online ke Internet dan mengambil gambar (foto) dan video. Bahkan sejumlah layanan online semisal Twitter, Wordpress maupun Flickr sudah menyediakan mini-programnya untuk diinstal di sejumlah ponsel. Pocket journalism, adalah suatu gagasan ketika wartawan, baik pewarta-warga maupun media arus-utama, tak lagi harus membawa perangkat peliputan yang rumit dan besar. Di era konvergensi, ketika sebuah breaking news harus segera disampaikan, maka sebuah gadget pintar (smartphone atau blackberry) dan akses Internet nirkabel (3G ataupun WiFi) sudah mencukupi, dengan teknis pengoperasian yang mudah.
  • Sharing. Para blogger yang menjalankan aktifitasnya sebagai pewarta warga, memiliki semangat untuk bisa berbagi informasi yang dilihat, didengar atau dimilikinya langsung kepada khalayak luas sesegera mungkin. Bagi mereka, eksistensi seorang blogger pewarta warga adalah konsistensi dalam menyampaikan informasi yang patut diketahui oleh khalayak luas secara berkala. Bentuk informasi yang disajikan oleh pewarta warga pun beragam. Dari hanya berupa teks, foto hingga video. Beragam layanan atau fitur di Internet yang dapat menjadi media para pewarta-warga berkiprah, dapat digunakan secara mudah dan tanpa dipungut biaya.

-
Demikian pulakah gambaran peran pewarta warga vs media arus-utama di Indonesia? Anda mungkin bisa bercerita lebih lanjut…

-dbu-

-

(Foto cover: Ajmal Amir, satu-satunya teroris di Mumbai yang tertangkap hidup-hidup.  Kredit foto: www.wikipedia.org)



16 Responses to “Citizen Journalism vs Mainstream Media (Studi Kasus: Peliputan Peristiwa Terorisme di Mumbai - India)”

  1. Yang penting isi beritanya gak menyimpang dari kebenaran saja

  2. Infonya ok bgt

  3. wow… begitu ya?
    jadi news by blogger dan news company tetap saja punya pembaca setianya masing2..
    2009 gimana?

  4. memang sudah terlihat trend yang menunjukkan warga telah menjadi prosumen berita. kabar dari warga menjadi semacam alarm yang akan ditindaklanjuti oleh para jurnalis profesional. tapi memang, sekali lagi, pewarta warga masih butuh waktu agar dapat lebih dipercaya.

  5. CJ (Citizen Journalism) membentuk sebuah fakta yang di tuangkan dalam bentuk berita dengan kemungkinan penambahan opini yang berakhir dengan sebuah asumsi, sementara Main Stream Berita terintimidasi oleh faktor “operasional cost” serta “politisasi kepemilikan” dengan target tertentu. Tingkat pendidikan pembaca adalah penentu dalam setiap informasi yang di dapatkan tentunya dengan analisa pada akhirnya akan membentuk opini.

  6. to koro:

    membuat dikotomi news by blogger dan news by company, saat ini bisa gak tepat lagi. misalnya ireport.com, adalah berita yang totally dari pewarta warga, tetapi fully funded by cnn. kemudian ada ohmynews.com di korea, yang juga berita2 dari pewarta warga, tetapi digarap sangat serius bak company. engadget.com, juga salah satu blog berita yang dijalankan dengan tim khusus layaknya sebuah company.

    kalau yang saya lihat, di 2009 akan semakin banyak mainstream media yang bersinergi dengan citizen journalist untuk mendapatkan akses ke sumber berita secara cepat.

    ibarat pasukan perang (nggak cocok sih, tetapi dipas-pasin aja, hehehhe…), citizen journalism adalah pasukan infanterinya. dia adalah “laskar informasi” yang pertama kali bisa mencapai atau mengakses sebuah peristiwa. pasukan ini bawa alat “perang” yang ekstra ringkas, cukup ponsel.

    kemudian ketika butuh pendalaman dan peningkatan keakurasian berita, maka tugas berikutnya diemban oleh media mainstream yang ibaratnya pasukan kavalerinya. pasukan ini bawa peralatan yang lebih lengkap dari pasukan sebelumnya, bisa berupa notebook, kamera video jinjing, kamera digital slr dan alat komunikasi/internet via satelit.

    ketika peristiwa berlangsung cukup panjang dan butuh perlengkapan yang lebih canggih, maka berangkatlah pasukan beralat berat, yaitu pasukan artileri. perlengkapannya, semisal ob-van berikut dengan tim dan perlengkapan di dalamnya.

    -dbu-

  7. to ndorokakung:

    saya setuju ndoro, bahwa “pewarta warga masih butuh waktu agar dapat lebih dipercaya.” lama tidaknya waktu tersebut, tergantung seberapa piawai dia memainkan perannya di lapangan, sekaligus “memanfaatkan” (baca: bersinergi dengan) jaringan mainstream media.

    saya yakin, dalam waktu dekat ini apa yang dikatakan oleh Prof Jeff Javis akan jadi kenyataan, “such will be our new view of news: urgent, live, direct, emotional, personal.”

    di beberapa kajian soal media terkait kasus terorisme di mumbai, dinyatakan bahwa kesuksesan twitter (dan flickr) dalam mengekspos peristiwa di mumbai, salah satunya adalah karena sejumlah mainstream media me-relay informasi dari pewarta warga tersebut ke khalayak yang lebih luas.

    ketika butuh kecepatan penyampaian informasi, maka pewarta warga memainkan peranan. ketika butuh pendalaman dan keakurasian, maka mainstream media akan menjalankan tugasnya.

    bukan berarti bahwa pewarta warga tidak bisa akurat ataupun mainstream media tidak bisa cepat. tetapi di sini lebih bicara pada “nature” dan “habit”, alias “environment” yang memang berbeda.

    -dbu-

  8. “hasil pencarian konten tentang “mumbai attack” di blog menghasilkan jumlah dua kali lipat lebih banyak ketimbang di di situs berita! ”

    Tapi, bukankah tidak semuanya konten di blog itu konten original? Ada juga yang copy paste, ada yang cuma nulis apa yg sudah dia baca/lihat di media mainstream, ada juga yang cuma menulis sedikit (secara umum) lalu sisanya link ke berbagai situs lainnya.

    Jadi “hasil pencarian konten” di blog wajar saja selalu lebih banyak daripada media mainstream.

    Untuk kejadian besar, sepertinya selamanya tetap media mainstream yang menjadi tolak ukur. Pewarta-warga kebanyakan jadi pemicu, atau pelengkap (walaupun kadangkala bisa jadi sumber utama).

  9. to okto silaban:

    tks atas tanggapanya. ya bener, bahwa tidak semua konten di blog itu konten original. pun sebenarnya sama saja, tidak semua konten di mainstream media juga original.

    dalam kasus di mumbai, orisinalitas konten justru datangnya dari citizen journalism, via twitter dan flickr. di jam-jam pertama saat kejadian berlangsung, sejumlah media mainstream, termasuk cnn, justru menayangkan konten2 yang murni hasil laporan/jepretan pewarta warga.

    cnn mengutip apa yang didiskusikan di twitter, dan menayangkan gambar yang ada di flickr (hasil upload pewarta warga). hal tersebut dilakukannya, sembari menunggu awak dari cnn tiba di lokasi.

    jadi kalau dari sisi orisinalitas, maka pada kasus “mumbai attack” pewarta warga adalah yang pertama kali mewartakannya.

    ini adalah postingan pertama dari pewarta-warga tersebut:

    ==========
    krazyfrog: OMG firing in south Mumbai. And my sister works there!
    Mumbai, India
    Nov 26, 2008 04:47 PM GMT · Reply · View Tweet
    ==========

    jauh beberapa jam setelah itu, awak mainstream media baru tiba di lokasi.

    jadi balik lagi, kalau dari sisi orisinalitas berita “mumbai attack”, pewarta warga bisa dikatakan sebagai pioner-nya :)

    kalau dari soal kopi-paste atau menulis ulang, sejumlah media mainstream yang tak punya awak di lokasi, juga mengutip pemberitaan media mainstream lainnya (wire). misalnya mengutip AP, CNN, dll.

    jadi tingkat orisinalitas soal konten di mainstream media vs citizen journalism media, masih bisa debatable ;)

    demikian menurut pendapat saya…

    -dbu-

  10. Salam kenal bung Donny, tulisan Anda dan analisisnya sangat bagus sekali. Sumbang pendapat sedikit : di Indonesia sendiri perkembangan citizen journalism sangat pesat sekali, seiring dengan semakin banyaknya masyarakat yang melek komputer.

    Namun demikian, tetap ada beberapa kelemahan mendasar terhadap citizen journalism ini, yakni soal keakuratan dan keyakinan atas kebenaran berita tersebut. Kenapa ? Karena para jurnalis warga umumnya belum mendapat pelatihan mengenai pakem-pakem jurnalistik.

    Bagaimana dengan jurnalis asli yang juga berlaku sebagai jurnalis warga melalui blog-blognya ?

    Pengamatan saya selama ini juga menunjukkan bahwa berita-berita yang di-posting melalui blog belum bisa dijadikan rujukan bagi mainstream media karena si penulis blog tidak memiliki beban tanggungjawab yang tinggi atas berita yang ditulisnya, berbeda dengan saat si penulis mengirim tulisan itu untuk media persnya.

    Hal yang mengejutkan juga untuk saya karena banyak juga jurnalis pemilik blog pribadi yang tidak tahu bahwa seseorang tidak bisa menulis sesuatu sebebas-bebasnya di blog pribadinya.

    Ada undang-undang yang mengatur agar penulis artikel di blog yang isinya menghujat , menghina atau mencemarkan orang lain atau organisasi lain dapat dituntut perdata oleh korbannya. Jadi etika media bukan hanya belum dipahami oleh para jurnalis warga, bahkan juga oleh para jurnalis yang sebenarnya.

    Namun demikian, di balik segala kelemahannya, citizen journalism juga pasti banyak kelebihannya, seperti halnya masalah kecepatan dan peliputan on the spot.

    Saran saya , sebaiknya dibuka pelatihan-pelatihan jurnalistik bagi para citizen journalists ini. Kita harapkan di Indonesia suatu saat ada model organisasi jurnalis warga seperti Ohmynews di Korea. Dengan demikian, berita atau artikel yang di-posting juga bisa diandalkan para pembacanya.

    Salam,
    Yuri

  11. emang hebring ya peran jurnalisme warga ini, karena dengan sifatnya yg fleksibel, cepat, serentak dan global memungkinkannya mengirim berita, hal yg tak bisa dilakukan oleh mainstream media.
    tapi memang, satu hal yg perlu dicermati adalah apabila media ini dipergunakan oleh pihak yg justru ingin memutarbalikkan fakta.

  12. Selamat pagi bos…analisa anda bagus bos..

    Menurut saya antara Citizen Journalism & Main Stream Media adalah bagai 2 sisi mata uang yang saling melengkapi…, mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan aktualitas berita

    tapi sayang di Indonesia perbandingan antara private blog & public blog masih jauh.., sayang di negara kita citizen journalism justru menjadi kelemahan untuk citizen journalism tsb. Masyarakat Indonesia bisa menyalahgunakan kebebasan yang diberikan untuk hal yang semena mena seperti menyebarkan pornografi, penghinaan, berita bohong dan berita lainnya yang sifatnya negative, tidak etis dan melanggar hukum. Benar seperti yang dikatakan bung yuri alfrin aladdi bahwa sebaiknya dibuka pelatihan-pelatihan jurnalistik bagi para citizen journalists ini.

    Namun yang menjadi perhatian saya bahwa para Citizen journalist tersebut bekerja tanpa kode etik jurnalistik. Menurut bung doni adakah solusi terbaik menanggapi hal ini, terkait tidak adanya sanksi yang tegas bagi pelanggar ?

    Ths & Rgds

    -ifajarwidi-
    Bloger biasa n pemerhati media

  13. to yuri alfrin aladdin:

    halo mas yuri, perspektif anda yang matang tentunya sejalan dengan pengalaman di lapangan ya :)

    saya cenderung sepakat bahwa saat ini, di indonesia khususnya, media dari pewarta warga (blog, dll) belum bisa menjadi rujukan yang dianggap memiliki kredibilitas tinggi bagi mainstream media.

    tetapi sebenarnya, menurut pendapat saya, perjuangan para pewarta warga hendaknya tidak difokuskan pada bagaimana dirinya bisa dirujuk oleh mainstream media. yang terpenting adalah bagaimana dirinya bisa dirujuk oleh khalayak luas.

    namanya juga perjuangan, panjang dan berliku. tidak ada yang instant, tentu mas yuri bisa sepakat untuk hal ini. tidak semua memang, blogger mau menulis dengan gagasan jurnalistik yang baik, konsisten dan mengerti apa yang dibutuhkan pembacanya.

    meskipun tidak tepat pula menyamakan antara istilah “jurnalistik” dengan “gaya bahasa (menulis)”. ada kekuatiran bahwa kalau blogger belajar gagasan jurnalistik, nanti cara menulisnya akan seperti mainstream media, menjadi kaku dan cenderung tidak bebas dan tidak asyik untuk dibaca.

    padahal, gagasan jurnalistik lebih kepada gaya berpikir, yang berbeda dengan gaya menulis. jadi saya lagi-lagi sepakat, workshop untuk citizen journalism adalah nice-to-have bagi mereka yang ingin menjadi pewarta-warga.

    dan pastinya, walau seakan citizen journalism dan mainstream media memiliki dunia yang berbeda, benang merahnya tetap sama, yaitu menyampaikan informasi yang layak, fakta, aktual dan bermanfaat bagi khalayak luas. dan pondasinya, ya soal gagasan jurnalistik :)

    -dbu-

  14. to wiwid:

    akur mas… yang perlu dibedakan adalah tidak semua citizen journalist adalah blogger, dan tidak semua blogger adalah citizen journalist.

    citizen journalist tidak harus punya blog, karena bisa saja medianya adalah di flickr, youtube ataupun twitter. demikian pula mereka yang punya blog dan ngeblog (blogger), tidak selalu dapat dikatakan sebagai citizen journalist.

    media yang kontennya (blog, microblogging, dll) yang isinya lebih kepada fitnah, pornografi, tidak etis, melanggar hukum, dll, ya sejatinya tidak masuk dalam kategori citizen journalism. itu saya anggap sebagai media sampah (garbage media).

    apakah ada sanksi bagi pelaku garbage media? mungkin ini bisa bantu menjawab –> http://donnybu.blogdetik.com/2008/04/09/uu-ite-bukan-untuk-pers-tetapi-untuk-blogger/

    -dbu-

  15. wah, tulisan menarik nih.. sangat bergizi..
    ikutan belajar nih..

    salam kenal dari Karawang
    http://www.karawang.info

  16. [...] pernah melakukan analisis sederhana tentang peran Citizen Journalism vs Mainstream Media (Studi Kasus: Peliputan Peristiwa Terorisme di Mumbai - India). Dari kedua kasus terorisme yang [...]

Leave a Reply

jika anda melihat tulisan ini, aktifkan css anda