Citizen Journalism vs Mainstream Media (Studi Kasus: Peliputan Peristiwa Terorisme di Mumbai - India)

4 Jan 2009

Teroris di MumbaiBagaimana peran sesungguhnya pewarta warga (citizen journalist) ketika sesuatu yang memiliki news value tinggi terjadi disekitarnya? Bagaimana pembagian peran antara media jurnalis warga (blog atau microblogging) dengan media arus-utama (mainstream media)? Seperti apakah konvergensi ICT dikaitkan degan tipikal pewarta warga dewasa ini ?

Serangan teroris di kota Mumbai India pada akhir November 2008 lalu, bisa menjadi salah satu contoh yang sempurna untuk menjawab pertanyaan di atas. Peristiwa serangan teroris di kota Mumbai yang menewaskan 172 orang tersebut memang menyedot perhatian khalayak luas.

Data grafis yang disajikan oleh GoogleTrends (www.google.com/trends) berikut ini bisa menjadi salah satu gambarannya:

Mumbai-Global

(tren pencarian di google.com menggunakan kata kunci mumbai)

Tampak pada gambar di atas, pencarian di Google yang menggunakan kata kunci mumbai” mengalami peningkatan yang signifikan pada tanggal 26 November 2008 dan mencapai puncaknya pada tanggal 27 November 2008. Kedua tanggal tersebut adalah masa-masa awal teroris melakukan serangkaian aksinya di Mumbai.

-

INFORMASI

Pewarta warga dengan memanfaatkan situs atau layanan jejaring sosial online, mempelopori penyampaian informasi tentang peristiwa di Mumbai. Perannya, menurut Techcrunch, bahkan mendominasi keberadaan media arus-utama saat itu. Blogger kawakan Mathe Wingram, yang juga redaktur media arus-utama Kanada, Globe and Mail, lebih tegas mengatakan bahwa Twitter adalah source of journalism. Meskipun demikian, blogger Tom di TomTechsBlog dengan memaparkan sejumlah fakta, mengajak khalayak untuk tidak serta-merta mempercayai kesahihan dan keakuratan seluruh informasi yang digelontorkan oleh pewarta warga.

Tulisan ini tidak akan melibatkan diri pada pro-kontra di atas. Tulisan ini lebih bertujuan untuk mengajak Anda menggali, mengolah dan mengkritisi sejumlah data/informasi yang tersedia di Internet, terkait antara media pewarta warga vs media arus-utama pada kasus terorisme di Mumbai.

Jika kita melakukan pencarian informasi di Internet tentang insiden di kota Mumbai (keyword mumbai attack, dilakukan pada Q4 Desember 2008), maka akan didapatkan temuan sebagai berikut:

  • 14.300.000-an total halaman situs yang ditemukan oleh mesin pencari Google.com
  • 166.500-an blog yang terdata di mesin pencari GoogleBlog (blogsearch.google.com)
  • 84.900-an artikel di situs berita arus-utama yang tercatat oleh mesin pencari GoogleNews (news.google.com)
  • 5.600-an postingan di sejumlah blog yang terdaftar dalam layanan blog Wordpress.com
  • 2.400-an postingan video di layanan penyimpanan dan berbagi video, YouTube.com
  • 1.700-an postingan foto di layanan penyimpanan dan berbagi foto, Flickr.com

Yang menarik adalah ketika hasil pencarian memaparkan bahwa hasil pencarian konten tentang mumbai attack di blog menghasilkan jumlah dua kali lipat lebih banyak ketimbang di di situs berita! Dari sini dapat ditarik postulat pertama bahwa informasi yang diposting oleh para blogger (diasumsikan sebagai pewarta warga), jauh lebih banyak ketimbang informasi yang disajikan oleh para jurnalis media arus-utama (mainstream) secara online.

Hal di atas belum termasuk serangkaian postingan berkelanjutan di layanan micro-blogging Twitter.com. Seperti ditulis oleh CNN.com, pewarta warga melalui situs micro-blogging Twitter.com menjadi garda terdepan dalam hal penyampaian informasi awal tentang kejadian serangan teroris di Mumbai. Hanya beberapa menit saat serangan teroris di mulai, setidaknya setiap 5 detik terkirim 80 pesan tentang kejadian di Mumbai ke Twitter via SMS, langsung dari tempat kejadian dan/atau dilaporkan lansung oleh saksi mata.

-

RUJUKAN

Saksi mata, dalam konteks perkembangan teknologi Internet terkini, tak lagi diposisikan sebagai nara sumber berita bagi media arus-utama. Saksi mata kini dapat memposisikan dirinya sejajar sebagai media arus-utama dalam konteks penyampaian informasi. Saksi mata juga kini dapat berperan sebagai jurnalis warga, yang menulis, mengabadikan gambar (foto dan/atau video) suatu kejadian dan menyampaikan (baca: menyiarkan) kepada khalayak luas.

Jika memang sumber pertama suatu informasi dapat datang dari pewarta warga, apakah dengan demikian blog (diwakili oleh Wordpress.com) dan microblogging (diwakili oleh Twitter.com) menjadi rujukan utama khalayak luas? Berikut ini adalah perbandingan pageviews antara situs media pewarta-warga dengan situs media arus-utama (diwakili oleh CNN.com) saat peristiwa terorisme di Mumbai tersebut terjadi , menggunakan data dari situs Alexa.com :

Mumbai-Alexa

(perbandingan pageviews antara twitter.com, wordpress.com dan cnn.com versi Alexa.com)

Dari data di atas, dapat dijabarkan sebagai berikut:

  1. Pada keadaan normal, situs layanan blog wordpress.com memiliki pageviews yang lebih tinggi ketimbang CNN.com
  2. Pada saat kejadian di Mumbai, pageviews Wordpress.com tidak mengalami lonjakan yang signifikan
  3. Pada saat kejadian di Mumbai, situs CNN mengalami lonjakan yang cukup tinggi, hampir 2-3 kali dari kondisi normalnya, hingga jauh mengalahkan pageviews Wordpress.
  4. Situs Twitter, yang notabene adalah tempat kali pertama masuknya laporan adanya peristiwa Mumbai, yang kemudian disusul silih berganti dengan postingan laporan berikutnya dari pewarta warga, tidak mengalami lonjakan yang signifikan.

Jika kita coba tarik postulat kedua dari analisis di atas, maka dapatlah dikatakan bahwa meskipun situs pewarta warga micro-blogging (twitter.com) adalah yang pertama kali menayangkan informasi kejadian di Mumbai dan situs blogging (wordpress.com) memiliki muatan informasi mumbai attack dua kali lebih banyak dari situs media massa arus-utama, ternyata pengguna Internet secara global lebih menjadikan media massa arus-utama (CNN.com) sebagai rujukan untuk sumber informasi.

-

KONVERGENSI

Berdasarkan sejumlah paparan di atas, maka informasi tentang insiden terorisme di kota Mumbai adalah sebuah bentuk manifestasi konvergensi teknologi informasi dan komunikasi (termasuk Internet) dan media massa . Kejadian di suatu kawasan, dengan adanya konvergensi tersebut, akan dapat diketahui perkembangannya tiap waktu darimanapun penjuru kawasan dan oleh siapapun yang juga terkoneksi dengan Internet.

Media arus-utama tak lagi memegang kendali mutlak atas eksklusifitas sebuah informasi breaking news. Informasi breaking-news, di tangan para pewarta-warga, harus secepat-cepatnya ditangkap dan diredistribusikan kembali ke khalayak umum, tanpa harus melalui proses keredaksian kovensional (yang cenderung panjang dan birokratis). Meskipun tidak dapat dipungkiri pula bahwa proses keredaksian-lah yang diyakini banyak pihak akan lebih mampu menyaring mana informasi berfakta akurat dengan yang tidak.

Jeff Jarvis, Profesor Jurnalisme dari Universitas New York, tentang peran pewarta warga vs media arus-utama saat tragedi di Mumbai secara spesifik menulis dalam kolomnya di The Guardian, these are all journalistic functions - reporting, gathering, organising, verifying - that anyone can now take on. Traditional news organisations will still perform these tasks, but in new ways.

Terkait dengan tren keberadaan pewarta warga, Dan Gillmour menulis dalam bukunya “We The Media: Grassroots Journalism By The People, For The People“, bahwa pewarta warga akan menjadi bagian yang penting dan sejajar dengan media arus-utama dalam hal penyediaan informasi kepada khalayak luas. Gillmour memaparkan bahwa para pewarta warga bahu membahu dengan media arus-utama mendistribusikan informasi dalam berbagai bentuk, baik teks, foto maupun video.

Konvergensi teknologi informasi dan komunikasi (ICT) terkini, seperti Internet nirkabel, blog, gadget (ponsel) dan sebagainya, diklaim oleh Gillmour sebagai faktor pemungkin marak berkembangnya pewarta warga dewasa ini. Layanan blog, sebagai sebuah teknologi, memungkinkan seorang saksi mata berita bisa sekaligus menjadi penulisnya serta konsumen berita sekaligus bisa menjadi produsennya.

-

TIPIKAL

Berikut ini adalah tipikal pewarta warga yang dominan, menurut saya, mengacu pada partisipasinya dalam melaporkan tragedi di Mumbai:

  • Self-Organized. Ketika melakukan kegiatan sebagai pewarta warga dalam peristiwa terorisme di Mumbai, sejumlah blogger secara partisipatif mengkoordinasikan dirinya sendiri dalam kelompok-kelompok yang fokus pada informasi tentang kejadian di Mumbai tersebut. Di Twitter, segera dibentuk channel #mumbai bagi tempat postingan tentang kejadian terorisme tersebut. Sekelompok blogger yang berbasis di Mumbai, kemudian segera memanfaatkan situs Metroblog mereka yang beralamat di http://mumbai.metblogs.com sebagai layanan news wire. Hal tersebut bisa menggambarkan bahwa pewarta-warga, dalam keadaan yang istimewa atau di luar kelaziman, dapat secara cepat mengorganisir dirinya sendiri, tanpa proses birokrasi dan struktural yang kaku.
  • Convergence. Pewarta warga cukup bermodalkan piranti genggam (gadget) memadai, yang dilengkapi dengan fitur untuk online ke Internet dan mengambil gambar (foto) dan video. Bahkan sejumlah layanan online semisal Twitter, Wordpress maupun Flickr sudah menyediakan mini-programnya untuk diinstal di sejumlah ponsel. Pocket journalism, adalah suatu gagasan ketika wartawan, baik pewarta-warga maupun media arus-utama, tak lagi harus membawa perangkat peliputan yang rumit dan besar. Di era konvergensi, ketika sebuah breaking news harus segera disampaikan, maka sebuah gadget pintar (smartphone atau blackberry) dan akses Internet nirkabel (3G ataupun WiFi) sudah mencukupi, dengan teknis pengoperasian yang mudah.
  • Sharing. Para blogger yang menjalankan aktifitasnya sebagai pewarta warga, memiliki semangat untuk bisa berbagi informasi yang dilihat, didengar atau dimilikinya langsung kepada khalayak luas sesegera mungkin. Bagi mereka, eksistensi seorang blogger pewarta warga adalah konsistensi dalam menyampaikan informasi yang patut diketahui oleh khalayak luas secara berkala. Bentuk informasi yang disajikan oleh pewarta warga pun beragam. Dari hanya berupa teks, foto hingga video. Beragam layanan atau fitur di Internet yang dapat menjadi media para pewarta-warga berkiprah, dapat digunakan secara mudah dan tanpa dipungut biaya.

-
Demikian pulakah gambaran peran pewarta warga vs media arus-utama di Indonesia? Anda mungkin bisa bercerita lebih lanjut…

-dbu-

-

(Foto cover: Ajmal Amir, satu-satunya teroris di Mumbai yang tertangkap hidup-hidup. Kredit foto: www.wikipedia.org)


TAGS


-

Author

Follow Me