Jangan berkarya pas bandrol (kecuali 2 babi?)…

13 Oct 2008

3 babi

Pernah dengar/baca/nonton kisah 3 babi dan 1 serigala? Inti kisahnya, ada tiga babi bersaudara yang masing-masing harus membuat rumah untuk berteduh. Anda ingin memilih jadi babi yang mana? Yang bekerja pas bandrol, ataukah yang berkeringat tanpa mengeluh? Lalu apakah Anda ingin menjadi bagian dari populasi 20% tempat orang bergantung ataukah 80% yang selalu bergantung? Baca postingan saya kali ini, dan tentukan sikap Anda!

Kembali ke kisah 3 babi (sila baca di wikipedia, atau nonton di youtube) tersebut, singkat cerita, babi yang paling bungsu, lantaran malasnya, hanya membuat rumah dari jerami dan diselingi dengan banyak bermain. Babi yang tengah, walau tidak semalas adiknya, masih sempat banyak bermain ketika membangun rumahnya yang terbuat dari kayu. Masih lebih baiklah, daripada rumah jerami. Nah si babi sulung, membuat rumahnya dengan serius. Dia tidak sekedar membuat rumah asal “punya rumah” atau “yang penting ada”.

Si babi sulung membuat rumah dari semen dan bata, berkeringat lebih banyak ketimbang kedua adiknya yang kerja pas bandrol. Bahkan, si babi sulung ini tak memiliki waktu luang untuk bermain-main (musik) ketika membangun rumahnya. Irikah si babi sulung ini dengan kedua adiknya yang lebih santai? Anda pun tahu jawaban di akhir cerita! Hancurlah rumah jerami dan rumah kayu yang dibangun oleh si babi bungsu dan babi tengah lantaran ditiup oleh serigala yang datang ingin memangsa.

Kedua babi tersebut walhasil terbirit-birit lari ke rumah kakaknya, memohon perlindungan. Di dalam rumah yang kokoh tersebut, akhirnya ketiga babi tersebut bisa aman dari ancaman serigala. Si babi sulung pun di akhir cerita, bisa bermain musik (untuk menghibur para adiknya), yang baru bisa puas dilakoninya setelah rumahnya jadi.

Pesan moral dari cerita tersebut:

1).
apakah kita ingin memiliki sesuatu hanya karena “yang penting ada” (pas bandrol), ataukah kita ingin berbuat sesuatu, bekerja, berkarya yang lebih baik? kalau ingin pas bandrol, ya sudah. jadilah babi yang yang membangun rumahnya dari jerami, sambil bermain dan santai. pada saat “serigala” datang, kira2 siapakah yang akan lebih siap? apakah mereka yang bekerja pas bandrol, ataukah yang ikhlas berkeringat? misalnya ada peluang karir lebih bagus, siapakah yang akan lebih mungkin terpilih?

ketika perlu ada pemangkasan (just in case), karyawan seperti apakah yang kemungkinan besar masuk dalam daftar? jadi, masing-masing dari kita punya “serigala”, apakah itu sifatnya peluang ataupun ancaman! ketika “serigala” itu datang, apakah anda berada dalam posisi yang siap? siap aman (dan maju) atau siap diterkam (dan mati)?

2).
perlukah kita iri dengan rekan kerja yang kerja secukupnya dan (terkesan) lebih santai dari kita? pertanyaannya, apakah anda mau jadi pihak yang di suatu saat nanti menjadi tempat orang dapat meminta tolong, ataukah justru cukup puas jadi orang yang selalu bergantung pada orang lain? hukum prinsip pareto 20%-80% berlaku universal. artinya, dari seluruh populasi (apapun), 80%-nya akan selalu manut dan tergantung pada 20% lainnya. itu teori dependensi yang sahih. dari level antar negara s/d antar individu.

jadi jangan berharap rekan kerja kita 100% akan menjadi serajin diri kita. lebih baik, tentukan saja, kita mau menjadi yang 30% ataukah yang 70% itu! janganlah kemudian kita terus-terusan sibuk mengorek-ngorek kerajinan seseorang, ataupun kemalasannya. siapa tahu, orang tersebut sudah memilih menjadi bagian yang mana.

3).
anda yang sudah nonton film “wanted” yang dibintangi angelina jolie, pasti paham bahwa di awal kisah ada seorang pegawai kantoran biasa yang hidupnya biasa saja dengan karir yang biasa saja. bahkan, karyawan tersebut menggunakan google untuk mencari ‘eksistensi’ dirinya (ataupun karyanya) di internet, dan hasilnya nihil. bagaimana mungkin, kita bisa eksis ketika kita hidup sesuai dengan takaran orang-orang normal (common people)? kita harus berani menggeser target tujuan hidup kita dan cara kita berkarya. janganlah mendadak kita ingin eksis di populasi yang sangat besar. buatlah secara bertahap.

misalnya, mulailah dengan pertanyaan, apakah diri dan karya kita sudah eksis (diakui, ditunggu, dibutuhkan) di lingkungan tim internal kita? bagaimana dengan di divisi/group kita? lalu kalau sudah tercapai, tingkatkan. bagaimana di level kantor? di level industri sejenis? di level komunitas / masyarakat? dan seterusnya. selangkah demi selangkah, tentukan target eksistensi kita, dan janganlah menjadi orang-orang “normal” yang hidup “bagaimana ntar sajalah!”.

4).
problem kemudian muncul ketika kita mulai menghitung-hitung rupiah yang masuk dibandingkan keringat yang keluar. jadi apakah dengan demikian lebih baik kita kerja pas bandrol saja? kalau saya, sudut pandangnya lebih baik diubah. ok, kita dibayar untuk kerja hingga mendapatkan hasil sekian, alias pas bandrol. tetapi apakah kita tidak ingin berinvestasi atas pengalaman dan mengasah kemampuan, dengan melakukan pekerjaan di atas bandrol (yang tentunya untuk kepentingan kantor) dengan fasilitas kantor?

walau kantor akan mendapatkan hasil keringat kita, tetapi di sisi lain, kantor sebenarnya memberikan fasilitas gratis bagi kita untuk berinvestasi pengalaman dan kemampuan (kalau kita mau!). kalau akhirnya kita mendapatkan reward atas pekerjaan kita yang di atas bandrol tadi, itu berarti rejeki (yang sudah ada takarannya dari yang di atas) berarti sudah saatnya turun. kalau belum, maka teruslah ber-investasi! ingat, “serigala” datangnya tanpa diundang, alias dadakan. siapkah anda? siap aman (dan maju) atau siap diterkam (dan mati)?

.

simpulannya:

selama anda berkeluh kesah atas beban kerja yang tidak imbang antara anda dan rekan anda, tidak imbang antara harga bandrol dengan keringat, dan keluhan-keluhan lainnya, maka anda tidak akan dapat melihat sisi lain dari kebajikan-kebajikan yang selama ini telah anda investasikan untuk masa depan anda :)

-dbu-


TAGS


-

Author

Follow Me