Chiang Mai: dari Rumah Angker sampai Nyemil Ulat !!!

27 Jun 2008

uncle coke

Berikut ini sekilas bunga rampai selama saya di Chiang Mai - Thailand, dari 23 s/d 28 Juni 2008. Foto di atas, diambil oleh rekan rapin mudiardjo, adalah saya dengan seorang kolektor dan penjual collectibles “coca-cola” di pasar Anusarn. Uncle Coke, demikian dirinya menyebut, sudah 20 tahun mengoleksi dan berdagang aneka jenis collectibles coca-cola dari berbagai negara. Indonesia, adalah hal yang tak asing baginya, secara dirinya sudah 4 kali ke Jakarta dan 10 kali ke Bali. Sewaktu saya bertandang ke tokonya, Selasa (24/5/2008), itulah kali terakhir dia menjalankan toko yang telah dirintisnya sejak 20 tahun silam. Malam itu, dia sedang berkemas-kemas.

Saya pun menyempatkan diri berfoto dengan dirinya, dan membeli sebotol coca-cola yang unik, seharga 300 bath (note: 1 bath = 300an rupiah). Seperti apa uniknya? Tunggu saya bener2 balik ke Jakarta, rencananya akan saya letakkan di meja saya di Detikcom. Pokoknya unik deh!!! Gak ada jual di Jakarta :P Btw, silakan tengok foto2 dan kisah unik selanjutnya…

nyetir tuktuk

Keterangan foto atas: Inilah kendaraan lokal di Thailand, termasuk di kota Chiangmai. Suaranya lebih halus daripada bajaj versi non-bbg. Daya muat 3 orang di belakang, dan 1 supir. Kalau mau irit, dan sering kejadian, di kiri-kanan supirnya juga bisa buat ditebengin orang 1/2 jongkok. Kendaraan ini pake tuas perseneling yang lokasinya di tengah2 selangkangan supirnya. Asal jangan salah narik tuas aja :P (fotografer: rapin)

doi pui

Keterangan foto atas: Saya berpose di kawasan area pintu masuk desa tradisional Don Pui. Jaraknya sekitar 1 jam berkendaraan motor, menempuh jalan berliku-liku naik ke daerah puncak pegunungan. Sepanjang perjalanan seperti layaknya ke kawasan puncak Bogor. Udara sejuk, pemandangan indah, sungai jernih, dll. Oh ya, di Chiang Mai saya nyewa motor otomatik dengan rate 150 bath untuk 24 jam. Tinggal isi bensin 2-3 liter, bisa muter2 jarak jauh. Harga bensinnya? Lumayan mahal bo, sekitar 42 bath per liter. (fotografer: rapin)

villager

Keterangan foto atas: Seorang penduduk asli desa Doi Pui memperkenan saya untuk berfoto bersama. Waktu saya tiba di desanya, setelah diberikan sedikit uang sebagai tali kasih, dia menunjuk sebuah rumah di tengah halaman, setengah menyuruh saya untuk masuk. Saya pun bersama rekan rapin mudiardjo masuk ke rumah yang sudah sangat tua, rapuh dan tidak terawat. Rumah yang beralasan tanah tersebut berukuran tidak lebih dari 5×4 meter persegi, tanpa ada sekat apapun. Suasana angker segera merebak kami masuk ke dalam rumah tua tersebut. Dan apa yang ada di dalam rumah yang remang-remang kurang cahaya tersebut?

Tampak sejumlah toples berukuran sedang hingga sangat besar. Saat kita dekati, ternyata isi toples tersebut berisi cairan pengawet yang didalamnya ada aneka binatang, dari kera bermata satu, kaki seribu berukuran lumayan gede, ular, kucing beku, sampai dengan monyet kembar siam! Waduh, kontan kita langsung ambil langkah seribu. Serraammm bener ‘penunggu’-nya!!! Itu yang tampak! Bagaimana dengan yang gak tampak??? Apalagi saat itu senja kala sudah mulai datang. Kenapa gak di foto? Enak aja! Ntar kalo kualat gimana, jadi kesambet atau jadi gak pingin pulang? Situ mau nanggung? (fotografer: rapin)


Wisata Kuliner

kuliner 01

Keterangan foto atas: Telor mata sapi adalah favorit saya. Telor puyuh juga kesukaan saya. Bagaimana kalau ada telor puyuh mata sapi? Saya baru nemunya ya di Chiang Mai, tepatnya di kawasan Kad Suan Kaew. Rasanya? Makk nyuusss !!! harganya cukup murmer, 20 bath berisi 10 telur puyuh mata sapi. (fotografer: rapin)

kuliner02

Keterangan foto atas: Ini adalah kawasan perbelanjaan Kad Suan Kaew, di kota Chiang Mai. Suasanya persis bazzar makanan, cocok untuk wisata kuliner. Beragam makanan dan minuman tersedia, dari yang biasa saja sampai yang aneh :P Salah satu yang aneh, setidaknya bagi kebanyakan orang, adalah cemilan gorengan serangga! (fotografer: donnybu)

kuliner03

Keterangan foto atas: Ooo… ooooww…….. ini dia makanan “unik” yang saya maksud. ada gorengan jangkrik, belalang, sejenis serangga berbentuk kecoa gede, ulat sutra, ulat bambu, dan sejenisnya. harganya satu kantong kecil 20 bath. berani mencoba? (fotografer: donnybu)

kuliner04

keterangan foto atas: inilah foto cemilan unik, yang saya beli. yang berwarna kecoklatan muda adalah ulat pohon bambu, sedangkan yang coklat gelap berukuran lebih besar adalah ulat sutra. ini adalah bentuk yang sudah digoreng, jangan kuatir. tetapi bayangkan pula jika aneka ulat ini masih hidup dan segepok diletakkan di telapak tangan anda! (fotografer: donnybu)

kuliner05

Keterangan foto atas: dengan membuang seluruh rasa takut (rasa jijik kali yah?) , akhirnya saya memberanikan diri mengudap (nyemil) segepok ulat2 tadi. rasanya? uhmm buang jauh2 pikiran bahwa yang kita makan itu adalah ulat :P yang ulat bambu rasanya kayak gorengan kulit ceker ayam. kalo yang ulat sutra, digigit ada daging di dalam tubuhnya. rasanya seperti makan udang… uhgg sedapppppp !!! (fotografer: rapin)

Chiang Mai, 27 Juni 2008

-dbu-


TAGS


-

Author

Follow Me