Catatan Diskusi Menkominfo dengan Blogger Indonesia
8 04 2008
Tak banyak yang bisa diulas tuntas dalam diskusi informal antara Menkominfo M. Nuh dengan para blogger Indonesia. Bahkan beberapa isu strategis, nyaris terhempas begitu saja.
Sejak awal pembukaan diskusi yang berlangsung di kantor Depkominfo, Senin (7/4/2008), Nuh sudah menegaskan permintaan bantuannya, setidaknya berupa saran, tentang teknik memblokir film Fitna (saja), tanpa harus menutup keseluruhan isi situs semisal di YouTube.
Tetapi, karena mungkin niatnya adalah silaturahim (tak lebih), maka justru dari sekian banyak blogger peserta yang hadir dan mendapatkan kesempatan berbicara, lagi-lagi hanya mengulang-ulang pertanyaan tentang mengapa pemerintah harus menutup YouTube.
Pun alasannya, menurut Nuh, sudah jelas. Presiden SBY telah meminta kepada dirinya untuk meminimalisir masuknya Film Fitna ke Indonesia, termasuk yang melalui Internet. Nuh pun mengakui di depan para blogger, bahwa jajarannya tidak akan mungkin memblokir seluruh situs di Internet yang mengandung film Fitna.
Nuh, yang didampingi oleh Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar, Dirjen Aptel Cahyana Ahmadjayadi, dan Staf Ahli Bidang Hukum Edmon Makarim tersebut juga paham bahwa memblokir keseluruhan isi YouTube adalah bukan solusi yang terbaik, mengingat banyak konten YouTube yang memang positif dan bermanfaat.
“Untuk itu, kalau ada masukan atau saran dari rekan-rekan tentang bagaimana memblokir hanya pada film Fitna saja, silakan disampaikan,” pinta Nuh, yang sayangnya tak banyak masukan yang khusus menanggapi hal tersebut.
Blogger Negatif
Uniknya, ada pula blogger yang memutar rekaman wawancara sebuah radio dengan seorang yang suaranya mirip dengan pengamat TI Roy Suryo. Menurut blogger tersebut, wawancara tersebut isinya cenderung mendiskreditkan dirinya atau rekan blogger lainnya.
Padahal, sepengetahuan penulis, perilaku yang dilakukan oleh blogger tersebut dengan memutar rekaman suara di depan khalayak ramai untuk menguatkan pendapatnya, tak ada bedanya dengan yang dilakukan oleh Roy Suryo, pihak yang dianggapnya sedang berkontra dengan dirinya lantaran menyebut dirinya sebagai blogger negatif.
Maka tak heran, di akhir acara Nuh sempat ‘didaulat paksa’ untuk menyatakan secara eksplisit bahwa blogger tidak identik dengan pihak yang gemar melakukan kerusakan di dunia maya. Nuh pun berhasil berkelit dengan menjawab diplomatis, yang intinya menegaskan bahwa pihaknya menganggap blogger sebagai mitra dalam membangun bangsa.
Sungguh, sangat disayangkan sesi pertemuan yang sangat berharga tersebut, tak dioptimalkan untuk melahirkan sebuah inisiatif bersama dan sinergis antara komunitas blogger dengan Depkominfo. “Ya, namanya juga silaturahim,” ujar salah seorang blogger melalui SMS kepada penulis. Jadi mungkin, sah-sah saja akhirnya kesempatan yang langka tersebut, (hanya) dijadikan sarana menumpahkan uneg-uneg pribadi atau kelompok.
Ide Cemerlang
Meskipun demikian, tidak sedikit pula peserta diskusi yang kemudian memunculkan sejumlah ide cemerlang. Bahkan ide-ide tersebut kemudian menjadi kesimpulan yang ditegaskan Nuh saat menutup sesi diskusi.
Beberapa ide tersebut semisal yang disampaikan oleh blogger Boy Avianto. Menurutnya, sudah tidak saatnya lagi menghadapi sebuah konten negatif dengan pemblokiran. “Masyarakat kita adalah masyarakat yang kreatif dan mampu untuk melakukan hal tersebut. Bukan masyarakat yang minder (rendah diri),” ujarnya.
“Justru kita harus tantang masyarakat Indonesia, bagaimana membuat video yang positif sebanyak-banyaknya untuk menjawab (meng-counter) film Fitna, dan di-upload di YouTube,” tegasnya. “Pemerintah, dalam hal ini Depkominfo, kemudian memberikan penghargaan bagi konten atau hasil kreatif terbaik tersebut,” tambahnya.
Ide lain juga datang dari Jim Geovedi. Di awal, Jim menyatakan salut bahwa isu tentang blogger sampai menjadi isu penting di tataran pemerintah. “Indonesia adalah pertama kalinya, negara yang pemerintahnya sampai membahas soal blogger,” ujar Jim. “Which is, (sebenarnya) nggak penting sama sekali,” ujarnya yang disambut gelak tawa peserta dan jajaran Depkominfo lainnya.
Kemudian Jim menegaskan bahwa salah satu penyebab mengapa orang kemudian tertarik untuk mengakses konten dari luar negeri, dan juga menghabiskan bandwidth menurutnya, adalah sangat minimnya konten lokal berbahasa Indonesia.
“Sudah saatnya kita membangun konten-konten lokal, agar masyarakat Indonesia tak lagi harus menghabiskan bandwidth karena (tergantung pada) konten di luar negeri,” ujar Jim menegaskan. Jim pun menyempatkan diri menitip pesan kepada Depkominfo agar lebih piawai dalam mengkomunikasikan kebijakannya kepada masyarakat luas (awam).
Mendukung
Nuh sendiri menyatakan dirinya mendukung komunitas blogger. “Kami (Depkominfo) justru ingin mendorong komunitas blogger sebagai pendorong dinamika baru, pencerahan masyarakat,” ujar Nuh sesaat sebelum menutup acara.
“Saya bahkan mendorong blogger itu sebagai komunitas baru untuk menyebarkan fungsi pendidikan, pemberdayaan, dan memberi fungsi pencerahan masyarakat. Oleh sebab itu blogger itu part of our family,” tegas Nuh. Nuh pun menjanjikan untuk adanya diskusi rutin dengan para blogger, “ada ataupun tidak ada masalah”, tandasnya.
Diskusi itu sendiri diikuti oleh setidaknya sekitar 70 orang, terdiri atas perwakilan komunitas blogger, pemerhati dan praktisi TI dan sejumlah media massa. Diskusi di mulai pukul 19.15 WIB dan ditutup resmi sekitar pukul 21.15 WIB
Untuk tautan informasi tentang diskusi antara blogger dengan Menkominfo, beberapa diantaranya dapat dilihat di:
- http://ndorokakung.com
- http://romisatriawahono.net
- http://media-ide.bajingloncat.com
(kredit foto: romisatriawahono.net)
Tulisan ini adalah catatan penulis selaku pribadi.
Terima kasih udah mewakili kami para blogger, mau ngeblog aja ko susah yaaaa…. Gmn masayararakat mau maju??
kalau seandainya anda yang dituduh sebagai “blogger negatif”, apa yang akan anda lakukan? terima saja, maki2 di blog/detikinet, lapor polisi, curhat ke pak menteri, atau apa?
to dietha: thanks
pastinya, kita akan coba garap terus program2 yang bisa mengoptimalkan blog untuk hal2 positif, semisal untuk promosi usaha, bisnis, dll
to hamzah: kalau tuduhan tersebut kemudian tidak berdampak apapun terhadap kehidupan pribadi, pekerjaan, bisnis dan sosial saya, khususnya keluarga saya, ya saya diamkan saja. tetapi kalau kehidupan saya terganggu, maka jalan yang terbaik adalah melaporkan ke polisi
-dbu-
tolong bilang sama Menteri kurang kerjaan itu, Blokir bukan solusinya. Udah tau usaha blokir bakal sia-sia, tapi kok tetap dilakukan juga…. Ini kan keliatan banget “mental proyek”nya… (udah tau gagal, tapi tetep dilakukan juga….)
Yang gue heran, ISP2 kok ya… mantuk2 aja sama Menteri. Apa gak ada orang cerdas di ISP?? Apa mereka takut diancam dicabut ijinnya oleh Menteri
untung nama bloggernya nggak disebut, jadi nggak ada bukti ya. jadi, mari kita dukung sinetron indonesia, walaupun 128 biji sinetron lokal cuma ngebajak dan nggak mendidik, toh konten lokal kan.
Ini maksudnya gimana ya? Saya kurang mengerti…
Terus, sebenarnya yg memancing duluan membahas film itu siapa? Blogger yg hadir atau …
Oh ya, seperti yang tertulis di undangannya bahwa
sehingga sah-sah saja adanya klarifikasi soal tuduhan “blogger negatif” dan soal film Fitna dalam diskusi itu.
Dengan demikian, jika soal “melahirkan sebuah inisiatif bersama dan sinergis antara komunitas blogger dengan Depkominfo” secara formal dianggap tidak terjadi rasanya terlalu berlebihan untuk dipermasalahkan karena memang tidak termasuk dalam rencana tema diskusi.
ya beda dong, setidaknya blogger tersebut bisa memaparkan argumennya disertai dgn bukti. Ingatkan saya kapan Roy Suryo pernah memberikan bukti atas tuduhannya kepada orang2 yg dia sebut ‘blogger negatif’ (sebuah istilah yg dipakai utk berusaha memecahbelah blogger saja), yg katanya defacing situs kominfo lah, yg menjelek2kan kebijakan pemerintah lah. nothing!
@dbu
anda menuliskan di line terakhir adalah “Tulisan ini adalah catatan penulis selaku pribadi.”
tetapi di detikinet juga anda menuliskan hal yang serupa dengan postingan blog ini, bedanya hanya line terakhir itu saja, yang benar yang mana? “catatan pribadi” kok bisa masuk sebagai berita di detikinet.com? apakah anda jadi editor untuk diri anda sendiri?
mengenai blogger negatif, dituduh berbuat negatif dan penentang kebijakan2 pemerintah di radio elshinta sudah cukup mengganggu menurut saya, tapi ya karena anda tidak terkena langsung jadi mungkin gak kerasa efeknya.
ADIPATI ######!!!!!!….. hwauhauhwuahuwawa…
pendapat pribadi dimasukin di media onlen…
huh.. katanya dah jadi wartawan senior…
sekali junker tetap junker don… don..
btw ini pendapat pribadi loh…!!!!!
Ah saya sih simpel aja…kalo film fitna yang memfitnah agama Islam bisa membuat beberapa situs diblokir, kemudian membuat pembuat filmnya tak bisa ke Indonesia.

Padahal tidak ada efek langsung sama kehidupan pribadi kita, berarti
orang yang memfitnah blogger juga bisa diperlakukan sama dengan pembuat film fitna ya…
to palelopeyang: saat diskusi kemaren, temen2 blogger juga sudah menyampaikan langsung ke menteri
to ryosaeba: berhubung catatan pribadi, jadi saya ingin meng-highlight temen2 yang punya usulan konstruktif….
to ben: mudahnya, roy suryo juga kerap memutar rekaman audio/video di depan khalayak, ketika menceritakan suatu kasus. soal klarifikasi, sebenarnya yang saya lihat justru dengan adanya undangan menteri tersebut, membuktikan bahwa menteri dan jajarannya sudah paham kiprah temen2 blogger yang notabene tak sama pihak2 yang berafiliasi pada aktifitas negatif. pun, kalau mau tetap diklarifikasi, mungkin cukup dengan pembacaan pernyataan sikap saja oleh perwakilan. justru akan sangat bermanfaat jika undangan menteri untuk teman2 blogger agar membantu depkominfo, bisa menjadi materi diskusi yang dominan. toh agenda yang dijadwalkan, tidak mutlak harus kaku apa adanya
to dedenf: di media massa manapun, diperbolehkan wartawannya menulis artikel opini, tidak sekedar pemberitaan. etikanya kalau menulis opini, harus ditulis keterangan bahwa tulisan adalah pendapat/opini pribadi, bukan berita ataupun sikap dari media yang bersangkutan. pun, sangat dibolehkan jika anda atau rekan2 blogger lain, mau menulis opininya untuk dimuat di detikinet. sebagaimana para penulis2 IT lainnya. mengenai tuduhan blogger negatif, saya tidak merasa terganggu karena saya tidak mengakui bahwa diri saya adalah blogger negatif. kalau ada rekan2 yang merasa terkena efeknya, maka berbagai jalan dari melakukan klarifikasi hingga jalur hukum dapat ditempuh. pendapat saya yang terkait, dapat dibaca di atas
mudah2an bermanfaat.
-dbu-
to big: ya, opini pribadi boleh masuk dalam media massa, asal dijelaskan bahwa tulisan adalah pendapat/opini pribadi. beberapa opini pribadi saya yang pernah dimuat di detikinet bisa ditengok di http://dekonstruksi.blogspot.com/feeds/posts/default
mudah2an bermanfaat
-dbu-
dbu,
apakah saat dia menuduh blogger juga memutar sesuatu sebagai bukti di depan anda atau staf anda?
sepertinya anda yg lebih tahu dari pembuat agenda acara ya …
tapi kalau apa yg dibicarakan sesuai agenda, kenapa harus disayangkan? jadi, harus OOT ya baru diskusinya dianggap “optimal”?
njrit disensor… huaeuauheuaeaea….
*gelar tiker aja deh… juwalan aer mineral..*
errrr… apa lempar bensin yah..
menjadikan ini sebagai DBU versus blogger (negatip?)
hahuehuhaehuhaueaea….
to ben: pertanyaan pertama, saya ndak pernah melihat. tetapi saya ndak punya staf juga. yang punya staf, menterinya
soal agenda, saya ndak lebih tahu kok. saya hanya berasumsi bahwa namanya diskusi informal, agenda bisa cair. ya seperti saya tulis, semangatnya khan silaturahim, jadi saya gak bisa expect to much. saya sih berharap, ada suatu gerakan bareng yang positif antara komunitas blogger dan depkominfo. saya mikir, misalnya bareng2 bikin gerakan 1 juta blog itu gak cuma jadi slogan, tetapi jadi gerakan yang real. bikin pelatihan rutin, dimotori temen2 blogger dan difasilitasi oleh depkominfo misalnya. yang sederhana2 aja, kayak dulu detikinet pernah bikin pelatihan ngeblog untuk ibu2 atau untuk para aktifis islamic library atau untuk para aktifis lingkungan. jadi sebenarnya waktu itu, detikinet dibantu rekan2 lain secara swadaya melakukan sharing tentang manfaat blog. nah akan lebih dahsyat kalau komunitas blog bisa bersinergi dengan depkominfo, membuat pelatihan2 yang serupa atau lebih baik. jujur saja, saya mungkin terlalu banyak berharap pada acara semalam, sebagaimana yang anda telah tekankan
-dbu-
to big: ya iyalahh disensor… segala ragunan dibawa2.. hehehehe
gak kira2 loe ngasih komen :)) btw, monggo saja kalau ada yang gak berkenan dengan tulisan saya. mudah2an aja justru dari ketidaksepahaman, bisa ditemukan solusi yang lebih baik
istilah jawa nehhhh, jangan gojag-gajeg kalo nentuin sikap. hehehehe…. :p btw sori yak boss, belum sempet bezuk kelahiran putri kedua ente….
-dbu-
ah, kalau gitu bloggernya patut bersukur tidak disebut namanya, karena yang dicatat cuma kelakuan tidak konstruktifnya.
#dbu: ah elu sih emang nggak mo sepaham dengan sapa2x.. dari dulu..

biar alirannya beda gituloh..
ngertilah gue…
to ryosaeba: nggak tau juga yah, saya sebagai pribadi sih cuma pernah ingat nasehat orang2 tua jaman dulu….. “jangan sampe bener2 benci sama orang, karena nanti bisa2 kelakuan kita malah kayak orang yang kita benci”… hehehe.. tauk deh, masih pas apa nggak tuh nasehat tersebut dengan masa kini…
-dbu-
atas pertanyaan: “apakah saat dia menuduh blogger juga memutar sesuatu sebagai bukti di depan anda atau staf anda?”
ini orang yg sama ama yg tadi nyamain tindakan ryosaeba dgn roy suryo? bedakan dong, satu memberi bukti utk menguatkan argumen, satunya lagi menuduh tanpa bukti. tuduhannya serius pula, melakukan tindak pidana. sudah cek pasal 318 KUHP kan?
sebelumnya,
maksudnya .3gp porno itu? sejak kapan roy suryo diangkat menjadi penyidik di kasus2 itu dan berwenang membeberkan ke media? polisi aja ati2 ngasi statement ke media, lah ini main bikin pressconf aja.
to sevenco: statement pertama, saya ndak jelas maksudnya. tapi saran saya, kalau benar ada seseorang yang telah melakukan tuduhan serius, silakan dilaporkan saja ke polisi. daripada sekedar berpolemik, jadi cenderung tak berkesudahan. untuk statement kedua, saya setuju dengan anda
-dbu-
@dbu
ya nggak usah terlalu nganeh begitu, lah mas.
yang memutar rekaman suara roy suryo dalam wawancara radio menjelek-jelekkan blogger tersebut kok bisa-bisanya disamain sama roy suryo yang sekadar ngasal untuk membodoh-bodohi orang awam? kata-kata roy suryo ‘mereka pelakunya’ itu apa buktinya? atau itu cuma pelintiran media saja?
yang ditanyakan benny dan sevenco kan hal yang simpel?
yang blogger menggunakan jalur resmi (sepertinya agenda acara tersebut sudah ditulis ulang di komentarnya benny di atas) untuk menjelaskan bahwa roy suryo memang sampai menyebut nama 3 blogger sebagai ‘blogger awal yang menjelek-jelekkan pemerintah’ / ‘blogger negatif’. rekaman itu buktinya.
yang membikin polemik itu anda sendiri dengan kata-kata ‘tak ada bedanya dengan yang dilakukan oleh Roy Suryo’.
tunggu aksi saya ™
@dbu
saya kok tidak melihat disclaimer anda bahwa anda menulis berita tersebut sebagai opini pribadi di berita ini
to rhuseinh: statement pertama, saya hanya melihat dan menulis bahwa apa yang dilakukan oleh keduanya relatif sama ketika ingin memperkuat suatu pendapat, yaitu dengan memutar audio hasil rekaman. bahwa maksud yang satu berbeda dengan maksud yang lain, silakan berdasarkan pemahaman masing2
lalu statement kedua, yang saya maksud dengan “polemik” adalah bukan soal postingan saya yang dianggap “nyeleneh” ini dan komentar2 yang masuk. tetapi polemik pada kasus saling “under estimate”, saling “merendahkan” atau hal2 lain yang sifatnya malah gak konstruktif. jadi, tuntaskan saja segera. kalau memang ada pihak yang dianggap mencemarkan nama baik, laporkan ke polisi. kalau ada pihak yang dianggap membodohi masyarakat, mari kita berbuat agar masyarakat bisa menjadi pintar atau setidaknya menjadi tahu harus mencari kepintaran dari siapa. tidak malah sibuk membodoh-bodohi pihak yang dianggap membodohi tersebut. apa dengan demikian, masyarakatnya bisa jadi makin pintar? khan ndak juga…
-dbu-
to dedenf: monggo dilihat update yang terbaru. konten yang belum di-update tersebut memang kayaknya masih kesimpen di server. konten terbaru bisa ditengok di sini. jadi sempat saya kelupaan memasang disclaimer tersebut + belum pasang fotonya. kemudian segera saya pasang foto + disclaimer tersebut tadi pagi
konten yang sudah saya update tersebut adalah yang kemudian juga muncul di halaman index detikinet. mudah2an bermanfaat.
-dbu-
aquwa.. aquwa.. aquwa…
*gelar lapak*
eh.. detik nggak bisa ngedit artikel yah?
jadinya artikel baru?
*nyariin andry*
to big: he eh ya, saya juga baru tau… heheheeh… maklum, bukan orang teknis
kuliah dulu di gundar, terlalu asik dengan copy-paste kali yah.. ahahahahh :))
-dbu-
@dbu
mungkin saya yang terlalu berlebihan memahami apa yang anda tulis dalam paragraf di atas?
mungkin anda bermaksud menyampaikan bahwa mencap mereka sebagai blogger negatif itu sebuah pujian dan sifatnya konstruktif?
walaupun ada sebagian blogger yang sampai berlebih-lebihan menjelek-jelekkan roy suryo, saya melihat apa yang ditulis oleh blogger yang nama-namanya disebutkan roy suryo itu adalah hal-hal bersifat mendidik yang juga didukung oleh bukti dan punya dasar yang kuat. perlu anda bedakan memberikan informasi kepada masyarakat luas tentang mana yang benar dan mana yang salah dari sibuk membodoh-bodohi pihak yang dianggap membodohi tersebut/polemik pada kasus saling “under estimate”, saling “merendahkan” atau hal2 lain yang sifatnya malah gak konstruktif.
saya setuju dengan mengambil tindakan sesuai jalur hukum. jelas akan menyita banyak waktu dan tenaga, namun kalau memang berniat menyelesaikan masalah saya rasa itu jalan yang paling baik. menulis di blog mengenai pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat mungkin jangkauannya tidak begitu luas jika dibandingkan dengan melalui media konvensional.
tapi setidaknya blogger tidak bisa dengan gampangnya berkelit mengatakan bahwa apa yang disampaikannya disalahartikan oleh wartawan, dipelintir, hanya masalah mispresepsi dan lain-lain.
kalo saya sih, pemuteran rekaman itu salah satu bagian yang paling penting di pertemuan kemarin. mereka sudah lama dekat dengan ‘oknum tersebut’, tapi sayangnya ternyata orang2 depkominfonya sendiri sama sekali gak tahu apa2 tentang apa yang terjadi di media massa yang berhubungan dengan ‘oknum tersebut’. mudah2an dengan begitu depkominfo bisa mulai memikirkan urusan public relation yang baik, dan juga supaya lebih waspada dalam berurusan dengan ‘oknum tersebut’.
lagian kenapa perbuatan melaporkan perbuatan ‘oknum tersebut’ dianggap sama salahnya dengan perbuatan ‘oknum tersebut’ itu sendiri? kalaupun ada kesalahan mungkin cuma sebatas pada ‘tidak memanfaatkan kesempatan dengan baik’, sama sekali bukan tindak kriminal. dan ini pun masih tergantung interpretasi masing2. setiap orang punya prioritas masing2. atau mungkin mas donnybu berpendapat kalau orang2 depkominfo tidak perlu tahu hal2 yang terjadi di luar depkominfo? seremeh apapun urusan itu, sedikit banyak masih ada sangkut pautnya dengan mereka.
to rhuseinh: “pihak yang dianggapnya sedang berkontra dengan dirinya lantaran menyebut dirinya sebagai blogger negatif” = “pihak yang dianggap oleh A sedang berkontra dengan dirinya (si A) lantaran menyebut dirinya (si A) sebagai blogger negatif”. maaf ya kalau njelimet. trus menyampaikan informasi kepada masyarakat melalui blog, saya sangat setuju. yang perlu diingat, bahwa harus ada upaya juga agar makin banyak orang yang ngeblog + ngerti blog + memanfaatkan blog. jadi selain kita “sibuk” ngeblog, juga baiknya diimbangi dengan upaya agar makin banyak orang terlibat ngeblogging. contoh kecil2an dari saya, adalah dengan mengajarkan mahasiswa saya ngeblog.
-dbu-
rasanya gak ada yang bilang kalau yang salah dari ‘oknum tersebut’ itu adalah ’sering memutar audio hasil rekaman untuk memperkuat pendapat’. yang salah dari ‘oknum tersebut’ kan bukan itu.
langsung aja ke godwin’s law. hitler berkumis, si X berkumis, maka kesimpulannya si X dosanya sama dengan hitler. padahal kan dosa hitler bukan karena kumisnya :).
to priyadi: sori mas, gak pake awalan mas… soalnya biar egaliter, seragam di awal tanggapan atas komentar
btw, gini mas, saya secara prinsip setuju dengan pendapat mas pri. trus mohon saya ditunjukkan di artikel saya, yang eksplisit “menyalahkan” teman blogger kita itu. saya hanya menulis, “tak ada bedanya”. lalu bagaimana persepsi atas kalimat “tak ada bedanya” tersebut? ya bisa beragam
toh perbedaan akan mendewasakan, bukan dengan memaksakan bahwa A maka semua harus A.
lalu saya ndak men-judge ada “kesalahan” dalam acara kemaren, tetapi “menyayangkan”. ya, saya menyayangkan, tampaknya bukan karena faktor teman2 blogger lain yang hadir, tetapi karena tampaknya saya terlalu berharap (kepada teman2 blogger). saya sepakat, tiap2 orang punya prioritas masing2. untuk itu, tulisan saya ini mungkin hanyalah uneg2 saya, atas tak matched-nya prioritas saya dengan prioritas2 yang ada lainnya
nb:
apakah dengan demikian saya dianggap menjadi musuh blogger? silakan. ataukah ada yang beranggapan bahwa sebenarnya saya “terlalu peduli” dengan teman2 blogger? silakan. bebas2 saja. saya paham, mas pri (atau teman2 blogger lain) bisa menilai…..
mudah2an bermanfaat ya mas pri…
-dbu-
to priyadi (lagi): hehehehe… kalau saya, “hitler berkumis, si X berkumis”, apakah hitler = x = sama2 (khusus soal) berkumis? ya! titik! apakah hitler berdosa? bukan konteks saya menulis saat itu. apakah X berdosa? bukan konteks saya menulis juga. apakah demikian hitler = x = berdosa? saya tidak mau mengevaluasi orang berdasarkan variabel yang terbatas. jadi, saya gak tau jawaban itung2an terakhir tersebut
-dbu-
terus menurut pendapat mas donny yang dilakukan rs itu salah apa ndak dengan menuduh teman2 blogger kita berada dibalik serangan situs dan juga penentang kebijakan pemerintah?
ini contoh ‘holier than thou attitude’. rasanya gak ada yang gak setuju kalau makin banyak orang yang ngeblog + ngerti blog + memanfaatkan blog. no problem, tapi bukan berarti kita gak boleh ngurusin masalah yang lain.
mungkin ini sama dengan retorika sejenis “ngapain pemerintah bikin jalan tol mahal2, dimana2 masih banyak rakyat yang kelaparan”.
dan sebenarnya ‘masalah ini’ juga berhubungan dengan perkembangan blog seperti yang diutarakan om koen malam kemarin.
kalo gue sih ngeliatnya adalah apakah kita semua mengikuti perkembangan2x yang ada?
karena bagi gue, pri, eko dan lain-lainnya, hal-hal yg dibahas menurut elu itu don adalah hal-hal yang “udah lewat” masa pembahasannya, diskusi udah tarik-ulur yang pada kesimpulan bahwa pendekatan kepada yg punya otoritas itu penting, dan enda pun kalo nggak salah sudah berkonsultasi ke kepolisian tentang masalah ini.
jadi disini adalah yg ada sudut pandang yg berbeda, padahal itu intinya sama, ibaratnya “para tertuduh” itu sudah lewat titik2x a,b,c dan sudah pada titik z,
tapi mungkin elu ngeliatnya masih pada titik c, ya jadinya adalah ketertinggalan “action” yang ada.
Dan gue tau koq elu salah seorang penggiat yang menuntut adanya “tokoh” lain yang harus dimunculkan untuk counter balance terhadap X, tapi mungkin ada kalanya elu juga capek ngejar2x narsum yang susah dihubungi dan akhirnya pasrah terhadap sms dan fax yang masuk.. (CMIIW :D)
ini saya kutipkan “Padahal, sepengetahuan penulis, perilaku yang dilakukan oleh blogger tersebut dengan memutar rekaman suara di depan khalayak ramai untuk menguatkan pendapatnya, tak ada bedanya dengan yang dilakukan oleh Roy Suryo, pihak yang dianggapnya sedang berkontra dengan dirinya lantaran menyebut dirinya sebagai blogger negatif.”
memparafrase komentar om diditho: bagi saya gak perlu ahli semiotika untuk mengetahui kalau nada komentar tersebut menyalahkan blogger tersebut.
to priyadi (lagi): mohon dapat dibedakan makna tulisan mas pri “gak boleh ngurusin” dengan makna tulisan saya “baiknya diimbangi”. bahwasanya yang terjadi dalam diskusi dengan menkominfo tersebut adalah bagian dari “mengimbangi” menurut sebagian dari rekan2, silakan saja. mungkin saya melihatnya dari sisi lain. toh ndak perlu dipaksakan semua pikiran harus seragam. tujuan kita sama, memajukan dunia per-blog-an di indonesia sekaligus minterin orang via blog
-dbu-
to dedenf: mau jawaban jujur dari saya? kalau saya yang kena sembarang tuduh oleh siapapun, dan saya punya bukti, orang tersebut akan saya temui face-to-face, lalu tanya mengapa anda menuduh saya seperti yang saya pegang buktinya. kalo dia minta maaf, ya sudah, anggap no body perfect lah. tetapi kalo ngeles dan malah makin menjadi2, saya laporkan ke polisi. ribet dengan urusan polisi, bisa ke lbh. minta bantuan2 temen2 pengacara yang pro-bono (bisa membantu tanpa biaya).
-dbu-
wah, ya ngga lah. sama2 blogger kok. tapi ya itu, menyamakan perilaku seseorang dengan ‘you-know-who’ adalah tuduhan yang sangat serius! ini bisa dikategorikan pencemaran nama baik!!! dan ini jauh lebih serius daripada ‘ragunan’-nya si BiG!! jadi kalo ragunannya si BiG disensor, kita nuntut tuduhan ini juga disensor!
just kidding hehehe
iya nih pri.. si donny jadi chicken gitu.. pake perasaan dia mah..

to priyadi (lagi): silakan saja, kalau saya dianggap “menyalahkan” teman blogger tersebut karena kalimat saya tersebut. btw, anak saya hobi buka kulkas, tapi sering lupa nutup
kemaren saya buka kulkas, dan ternyata saya lupa bener nutup lagi. anak saya, mungkin gak nutup kulkas karena belum tau bener bahwa abis buka kulkas, harus ditutup. saya, karena udah dewasa, harusnya ndak boleh lupa. eh saya diomelin sama istri saya, “kok gak nutup kulkas? sama aja kayak anaknya!”.
pertanyaan: apakah saya “sama saja” dengan anak saya? kalau ya, apakah sama kelakuannya secara keseluruhan, ataukah termasuk sama dengan sifat/tabiatnya, ataukah sama hanya pada konteks gak tutup kulkasnya? apakah tidak tertutupnya kulkas tersebut akan bisa digeneralisir sebagai sama tabiatnya, perilakunya, kadar benar/salahnya?
multitafsir memang. bebas saja
-dbu-
mohon dilihat dulu agenda acaranya. depkominfo ingin masukan dari blogger tentang hal yang berhubungan dengan UU ITE dan sensor menyensor. ya sudah jelas topiknya ya itu.
to big: iya kali yah… saya mungkin gak mapping bahwa temen2 blogger udah pada titik “jenuh”. tetapi bisa jadi, saya melihatnya selalu ada peluang untuk melakukan “counter” atau “kick back” dengan cara lain, yang lebih elegan. mungkin saya salah, mungkin juga tidak. semua hal perlu di-exercise. nah saat ketemuan kemaren dengan depkominfo, saya sebenarnya berharap teman2 blogger bisa meng-exercise cara lain.
misalnya, bikin program bareng dengan depkominfo, lalu pelan2 minterin orang agar bisa tau which one is the real one
jadi seperti mau nyulik kucing tetangga, bukan dengan mematikan pemiliknya, tetapi kita suguhi kucing tersebut dengan makanan dan macem2 yang lebih menarik. pelan2, asal kelakon…. butuh kesabaran, tetapi elegan… hahahah.. ya sama2 nyuri sih…. sekali lagi, bisa jadi saya salah.. bisa juga benar… who knows….
-dbu-
@dbu
kemampuan saya berbahasa agak kurang, dan karena itulah saya menanyai anda dalam komentar yang sama “mungkin anda bermaksud menyampaikan bahwa mencap mereka sebagai blogger negatif itu sebuah pujian dan sifatnya konstruktif?” anda belum menjawab pertanyaan tersebut.
tambah satu lagi: apakah menurut anda “anggapan” si A tersebut keliru?
saya jadinya pingin tahu anggapan anda mengenai maksud pelabelan blogger negatif terhadap 3 orang tersebut.
mungkin inilah saatnya anda menjelaskan dalam konteks apa anda menulis paragraf itu, secara keseluruhan, biar tidak jadi ajang miss persepsi 2008. yang tahu maksud sebenarnya kan anda sendiri sebagai penulis?
ya kalau gitu apa relevansinya ngomongin kebiasaan ‘membawa bukti audio untuk memperkuat pendapat’ dari kedua orang tersebut dengan situasi saat ini? sekalian saja misalnya ngomongin hobi fotografi, 22nya juga hobi fotografi kan?
to priyadi dan big: pegel gue balesin komentar loe… dasar &#&($&(^#&)$ tetapi gini deh, kalau ternyata tulisan saya dianggap menyamakan tabiat teman blogger kita dengan orang yang dianggap sedang berkontra dengan dirinya, dan membuat sejumlah pihak tersinggung, saya tulus minta maaf.
tetapi saya ndak akan mencabut tulisan saya tersebut, karena jujur tak ada niatan sedikit pun bagi saya untuk menyamakan tabiatnya. tak lebih hanya pada perilaku pada saat itu, konteksnya jelas
hitam adalah hitam. mau ada yang bilang hitam kelam kek, hitam legam kek, hitam ke abu2an kek, don’t care.
soal agenda, ya itu saya udah jelaskan. saya mungkin expect to much….. i’m sorry to my self then… heheehhehe….
-dbu-
don: lha iya lah… pasti kearah sana udah dipikirin.. tapi agenda yg kemaren itu kan termasuk juga agenda yg dijadwalkan. lagian baru juga ada kesempatan ketemu, curhat dulu baru minta macem2x.. mungkin beda sama elu kali don yg sering ketemu.. hueahuaeaa..
heh? ngakunya blogger tapi pegel balesin komentar?
HUAHEUHAUEHUAHUEHUAHEUAUHEUAHUHEUAAE!!!!!!!!
to rhuseinh dan priyadi: sori dirangkep, soalnya penjelasannya relatif akan sama. konteksnya adalah, keduanya berkelakuan sama. padahal kedua2nya saling berseberangan (menurut pendapat umum). makanya saya tulis, “uniknya”. unik gak kira2? A dan B saling berseberangan, tetapi di satu titik ada kesamaan perilaku. that’s it.
kalo soal fotografi, saya ndak tau kalo teman blogger tersebut suka fotografi. belum sempet kenal lebih dekat. pun menjadi tidak unik juga kalau bicara soal fotografi, karena yang motret2 buanyak bener. tetapi yang muterin audio, khan cuma 1. namanya keunikan, ya artinya ndak banyak yang melakukan/memiliki. begitu…
-dbu-
to big: maaf, saya baru belajar jadi blogger
-dbu-
@dbu
halah, sorry tagnya belepotan. bisa bantu diedit, kan?
kalo berita yang di detik emang nggak bisa diedit lagi, ya?
*tunjuk2 andry
to rhuseinh: soal berita di detik, dah tak sampein ke andry langsung
-dbu-
tapi gue salut sama elu don… NEVER ENDING NGELESSSSS!!!!!!!!
hauehuahuauehuaeuhauehuaeuauheuae……………….
to big: biar pinter!
-dbu-
trus bedanya sama bajaj apaan?
*lanjuuttt…*
yg saya sayangkan dari tulisan itu bukan karena dianggap itu menyamakan tabiat, bukan. tapi karena akhirnya itu menimbulkan mispersepsi di kalangan publik pembacanya. mungkin anda bisa mengatakan ‘tidak ada niatan untuk menyamakan tabiatnya’, tapi kesan yg ditangkap pembaca kan bisa berbeda, dan sepertinya anda sama sekali tidak berupaya mencegah multitafsir/kerancuan yg timbul dari tulisan anda sendiri. apakah memang ini yg anda harapkan?
to big: kalo belok kiri, gue masih ngasih lampu sein…. ! gak penting banget loe! mending loe bantuin tuh, gimana jangan diblokir sapujagat gitu.
-dbu-
to sevenco: “multitafsir/kerancuan yg timbul dari tulisan anda sendiri. apakah memang ini yg anda harapkan?” <— jawaban saya, tidak! apakah itu bisa dicegah, tidak juga. apakah multitafsir itu berbahaya? tidak juga, karena akan lebih berbahaya kalau apa2 jadi monotafsir. gak bisa kreatif
-dbu-
kebiasaan meninggalkan pernyataan ambigu yang multitafsir memang kebiasaan unik roy suryo.
to ryosaeba: kebiasaan meninggalkan pernyataan ambigu yang multitafsir memang kebiasaan unik roy suryo.
<—- sampe hapal banget kayaknya….
-dbu-
ada di sini kok. kalau mau mengikuti jejak beliau ya tidak ada yang melarang kok, karena memang jurus-jurus itu ampuh buat ngeles dan menghindari tanggung jawab, bahkan atas tulisan sendiri. kan wawasannya jadi kurang luas, hehe.
wah, apa saya lupa nutup tag ya. kok hilang link-nya. anyway, http://bloggerdanhacker.wordpress.com/2008/04/08/jurus-basi-yang-kerap-dipergunakan-sang-pakar/
to ryosaeba: hehehe.. silakan lho…. mudah2an dengan berkomentar di sini, bisa juga dapet wawasan baru. jangan lupa, ada sejumlah posting lain di blog ini yang mudah2an bisa jadi inspirasi pembaca. silakan kalau ada komentar/pendapat yang ingin disampaikan pada posting2an lainnya
-dbu-
to ryosaeba: on the way menuju lokasi :))
-dbu-
punya kontrak kerja, mas? ato polis asuransi kerugian lah. pengen gak kalo klausul2nya dimultitafsirkan? ato pengen gak ada seseorang yg memultitafsirkan pasal (karet) untuk menuntut anda?
tapi saya ngerti, ‘tidak juga’ itu cara lain untuk bilang ‘ada benarnya’ (ini juga multitafsir? :D).
saya (tadinya) pikir jurnalis punya tanggung jawab untuk menyampaikan kebenaran pada masyarakat, bukan melempar pernyataan2 yg menimbulkan polemik. perhatikan tulisan berikut:
yang mungkin terlewat oleh dbu, adalah reaksi dari semua orang yang ada di depan, baik menteri, postel, aptel dan pak edmon. atau masih ingat reaksi mereka sewaktu diperdengarkan?
pak nuh: “saya tidak pernah mendengar/mengetahui tentang hal ini.”
jadi walaupun blogger tersebut dibilang tabiatnya sama saja dengan roy suryo, beda utamanya adalah tidak ada usaha menjelekkan roy suryo di forum tersebut. silakan cek jurus-jurus basi beliau. dan misi utama berhasil, membuka mata para pembesar depkominfo tentang roy suryo.
pak edmon di akhir acara berbicara ke blogger tersebut, bahwa kalau yang dijelekkan namanya sebagai perusak situs depkominfo adalah “blogger”, dia tidak bisa dikenakan pasal pencemaran nama baik. tapi karena sudah menyebut nama, pak edmon bilang kasusnya bisa diteruskan ke polisi, itu kalau mau. tapi sepertinya blogger itu tidak mau meniru tabiat ancam mengancam beliau, dan bahkan melaporkan seperti nasib yang dialami oleh bu chusnul.
*gelar tiker*
Ah bosen ah.. DBU #### ngeles mlulu.. kayak roy suryo ajah…
to basibanget: silakan dinikmati
to anthony fajri: bosen kok masih sempet2nya ngasih komentar :p tapi thanks anyway, sudah bersedia mampir….
-dbu-
to ryosaeba: thanks for update. confirmed….
-dbu-
to sevenco: saya juga bingung, jadi apa sih inti pertanyaannya? saran saya, silakan dibaca penjelasan2 saya di atas
-dbu-
to all: btw, ada 1 hal yang mungkin perlu saya sampaikan. bahwa tulisan saya, seperti telah dijelaskan, adalah atas nama pribadi. jadi saya tidak menulis sebagai jurnalis, tetapi sebagai individu, meskipun dimuat di media massa. artinya, segala konsekuensi hukumnya ada di saya pribadi, bukan di medianya. lain halnya jika saya menulis sebagai wartawan, maka konsekuensi hukumnya adalah pada media tempat saya bekerja.
mudahnya, kalau saya menulis sebagai individu/blogger, maka saya akan terkena UU ITE. jadi kalau ada tulisan saya sebagai individu yang merugikan orang lain, maka UU ITE dapat menjerat saya.
tetapi saat saya menulis sebagai wartawan, maka jika ada tulisan yang dianggap merugikan pihak lain, maka saya akan tunduk pada UU Pokok Pers.
jadi saat saya menulis di blog atau menyatakan bahwa tulisan saya sebagai pribadi di media massa, maka di saat itulah saya menanggalkan baju sebagai wartawan (dan menjadi blogger), maka UU ITE langsung mengawasi saya.
jadi demikian sedikit sharing, tentang beda menulis sebagai wartawan dan sebagai invididu (blogger), berikut dengan konsekuensi hukumnya
mudah2an bermanfaat.
nb:
posting komentar saya ini kaitannya pada berita ini “Tak Berhak dan Informasi Bermasalah, Blogger Bisa Kena UU ITE”
-dbu-
jadi gini. sebenarnya bisa dibilang gak ada kesalahan interpretasi dari sisi pembaca. coba tanya siapa saja yang mengikuti kasus ini, bisa dibilang hampir pasti jawabannya tulisan tersebut bernada negatif terhadap blogger yang menyiarkan rekaman tersebut. kalau memang bukan itu yang dimaksud penulis, artinya ada kesalahan dari sisi penulis dalam mengkomunikasikan apa yang seharusnya disampaikan. jadi tinggal nunggu itikad baik penulis apa mau memperbaiki tulisannya supaya sesuai dengan apa yang seharusnya ingin disampaikan, atau mau ngeles lagi
[…] cukilan dari tulisan DBU tentang Catatan Diskusi Menkominfo dengan Blogger Indonesia. tulisan beliau banyak dikomentari mengenai insinuasi soal pemutaran rekaman wawancara elshinta […]
@ryosaeba
jadi memang sudah positif blogger ybs tidak berniat melapor? ini info dari sumbernya langsung atau ini cuma ‘denger-denger’? kata ’sepertinya’ itu, loh.
*hati2 salah kutip*
pertanyaan saya kok belom dijawab juga? *kopipes ulang*
“terus menurut pendapat mas donny yang dilakukan rs itu salah apa ndak dengan menuduh teman2 blogger kita berada dibalik serangan situs dan juga penentang kebijakan pemerintah?”
btw, gak ada tubuh yang sempurna? j/k
@ dbu
yang dari saya juga kayaknya belum/tidak (mau) dijawab:
kok jadinya “tak ada bedanya dengan yang dilakukan oleh Roy Suryo”, ya?
to priyadi: nope, tidak ada perbaikan. tulisan itu sudah apa adanya. berikut dengan kritikan2 saya yang termuat didalamnya, yang bisa jadi terkesan kurang pro pada sebagian komunitas blogger. kalau ada temen2 yang anti-kritik, ya gak apa2. saya sudah ambil sikap. itikad baik saya adalah menyampaikan kritik, yang mungkin tidak/belum semua orang/pihak punya itikad baik untuk menerima (kritikan). saya merasa aneh aja kalau ada tulisan kritik/pendapat dari seseorang, kemudian dipaksa diubah/diperbaiki oleh orang/pihak yang tidak suka, baik oleh dirinya sendiri ataupun secara berkelompok.
kalau ternyata tulisan kritik/pendapat tersebut dianggap kurang sesuai atau tidak tepat, sudah benar jalurnya misalnya melalui “komentar” dan (harus) ditanggapi langsung oleh penulisnya sebagai bentuk klarifikasi atau penjelasan atas sikap dibalik tulisannya. kalau masih kurang puas, ybs sebenarnya bisa dengan membuat semacam tulisan klarifikasi di blognya sendiri. ini khan semacam “intelectual exercise”, bukan dengan memaksakan kehendak/pendapat bahwa A bagi seseorang/sekelompok orang, haruslah A juga bagi orang/kelompok lain. kalau di media massa, suatu artikel opini bisa “ditandingi” dengan artikel opini (dari penulis) lain, untuk meng-counter ataupun mem-balance.
mohon maaf kalau pendapat saya di atas salah
to dedenf: silakan mas dedenf jawab sendiri, mungkin mas lebih kenal dengan perilaku orang yang anda tanyakan, sehingga bisa lebih fair untuk mengatakan salah tidaknya.
to rhuseinh: jawaban atas pertanyaan mas rhuseinh, bisa anda baca2 di posting saya sebelumnya. soal tanggapan saya atas pelabelan, yang anda tanyakan anggapan atau tanggapan? kalau anggapan, saya tidak punya anggapan apapun, mengapa sampai ada pelabelan tersebut. kalau tanggapan, bisa jadi memang ada konflik di antara kedua belah pihak yang tak kunjung terselesaikan, sehingga berbuntut pada aksi saling merendahkan posisi masing2.
-dbu-
hihihi anda terlihat sangat hati-hati sekali, tenang saja mas, ini kan media opini pribadi, kan? saya tidak lihat dbu=detik.com kok, tapi kalo anda merasa demikian ya mau bagaimana lagi, wong opini pribadi seorang dbu saja bisa masuk ke berita sekelas detikinet.com.
oke, saya jawab jawaban yang anda sebut itu jawaban walopun sebenarnya hanya pertanyaan, pertanyaan dijawab pertanyaan *sounds familiar*. rs itu menurut saya salah, menuduh ketiga blogger “negatif” itu tanpa bukti yang jelas bahwa mereka berada dibalik penentang kebijakan pemerintah dan kemudian ada so-called blogger negatif yang memutar rekaman yang membuktikan bahwa rs menuduh blogger tersebut. pernahkah rs menyodorkan bukti bawah tiga orang itu penentang kebijakan pemerintah selama ini? saya jawab saja sekalian daripada dikasih pertanyaan lagi, jawabannya belum pernah.
*masih menunggu jawaban*
dari kemarin, saya udah bilang kalau paragraf yang ofensif itu yang ini: “Padahal, sepengetahuan penulis, perilaku yang dilakukan oleh blogger tersebut dengan memutar rekaman suara di depan khalayak ramai untuk menguatkan pendapatnya, tak ada bedanya dengan yang dilakukan oleh Roy Suryo, pihak yang dianggapnya sedang berkontra dengan dirinya lantaran menyebut dirinya sebagai blogger negatif.”
mas donnybu sendiri kemarin yang bilang kalo interpretasi saya dan pembaca lain terhadap tulisan tersebut salah, jadi kata mas donnyby sebenarnya paragraf itu tidak ditulis dengan niat menulis sesuatu yang ofensif tanpa merendahkan objek yang ditulis. betul kan kemarin kemarin begitu? jadi mau konsisten atau tidak? apa memperbaiki tulisan demi memperbaiki penyampaian dianggap anti kritik? kalo soal kritik mah silakan aja. saya gak keberatan. jadi diskusi jangan disetir ke isu ‘tidak punya itikad baik menerima kritikan’ etc etc.
to dedenf: thanks mas atas update infonya. ya syukurlah, kalau bisa paham. saya memang hati2 banget. soalnya kalau seperti mas dedenf dan temen2 lainnya, pasti udah bisa bedain posisi siapa sedang sebagai apa. nah ada juga yang suka ‘keslimpet’, ndak bisa bedain. tapi saya pernah kok, cerita ke beberapa temen2 blogger lain, termasuk di depan mas pri waktu itu, bagaimana posisi saya, baik sebagai pribadi ataupun media, melihat “kasus” yang berkembang saat ini. saya buka2an, tetapi saat itu saya minta tidak untuk ditulis di blog
dan sekedar informasi, saya juga “sangat paham” bagaimana kondisi di lapangan. saya sudah lama kok ngeliat beberapa posting2an “update” mengenai kasus sms, termasuk yang di blognya ndorokakung, didats, dsb-nya.
jad